Yayasan Cahaya Guru Ajak Guru Tingkatkan Pembelajaran Sosial dan Emosional
Post by: Admin

Seorang murid SMP di Tebet, Jakarta Selatan, melompat dari lantai 3 gedung sekolahnya pada Minggu, 26 Mei 2024. Kejadian ini menambah daftar kasus kekerasan di sekolah.  Yayasan Cahaya Guru (YCG) mencatat 44 kasus dari Januari hingga Mei 2024. Penyebabnya, antara lain murid merasa diabaikan oleh teman-temannya. Ketidakmampuan murid dalam mengelola emosi dan hubungan sosial menyebabkan mereka memilih untuk melukai diri atau orang lain. 

Direktur Eksekutif Yayasan Cahaya Guru, Muhammad Mukhlisin, mengatakan bahwa guru harus mendampingi murid tidak hanya dalam akademik, tetapi juga dalam keterampilan sosial dan emosional.

“Belakangan kita melihat aksi-aksi kekerasan, perundungan, dan percobaan bunuh diri terjadi di lingkungan sekolah. Murid-murid dan guru penting sekali mengenali ragam emosi dan bagaimana mengelola emosi tersebut dengan tepat. Hal penting juga adalah bagaimana membuat hubungan yang harmonis dengan orang lain.” ucap Mukhlisin. 

Psikolog Myra Diarsi dari Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah DKI Jakarta Raya (Himpsi Jaya) menyebut sistem pendidikan yang membatasi kreativitas dan menekan murid untuk tidak membuat kesalahan sebagai faktor yang mempengaruhi emosi remaja. 

”Kekeliruan sistem pendidikan ini masih menghidupi feodalisme sampai sekarang. Seharusnya tidak ada lagi sindrom hierarki antara guru dan murid. Antara murid dan guru itu sekarang masih tidak boleh tanya apalagi kritik, ini yang harus ditanggalkan,” kata Mrya.

Menurut Myra, relasi antara guru dan murid harus dua arah dan tidak hanya teknis. Guru harus mendengar dan membangun komunikasi interpersonal untuk mengelola emosi dan menerima perbedaan. 

”Seringkali relasi guru dan murid ini tereduksi menjadi relasi teknis hanya sepanjang bahan ajar sudah disampaikan guru dan peserta didik sudah mencatat. Namun, apakah dia (murid) terlibat di situ? ini yang tidak diperhatikan guru,” kata Myra.

Pemerhati pendidikan Shahnaz Haque menekankan pentingnya guru dan orang tua membangun relasi yang setara di rumah dan menularkannya ke lingkungan sekolah. 

”Ketika kita bisa menyelesaikan masalah dengan pasangan atau anak, maka ketika berhadapan dengan manusia-manusia di sekolah, kita sudah terlatih menghadapi perbedaan,” kata Shahnaz.

Namun, guru di Indonesia menghadapi beban kerja berat dan kesejahteraan rendah. Riset Education Week menunjukkan guru membuat sekitar 1.500 keputusan per hari. Hal ini  menyebabkan kelelahan. Sementara itu, Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) mengungkapkan 74 persen guru berpenghasilan di bawah Rp 2 juta. 

Seorang Guru PAUD, Nuning Rahmawati, menyebut beban kerja guru sangat besar tanpa penghargaan yang memadai secara nominal atau gaji. 

 

====

Catatan Redaksi

Yayasan Cahaya Guru Yayasan Cahaya Guru (YCG) adalah organisasi masyarakat sipil yang memiliki visi terwujudnya masyarakat guru yang menjadi rujukan keragaman, kebangsaan dan kemanusiaan. Yayasan Cahaya Guru berdiri sejak tahun 2006, sampai 2023 telah membantu lebih dari 20.000 guru di seluruh Indonesia untuk kapasitas dalam bidang keragaman dengan metode pembelajaran yang beragam, serta meningkatkan materi terkait non diskriminasi, demokrasi, peace building, dan kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) melalui pelatihan, produksi media ajar, promosi, dan advokasi lingkungan pendidikan yang kondusif bagi penerapan prinsip-prinsip keragaman dan kemanusiaan melalui pengambilan kebijakan di level sekolah, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.


Alamat: 

The Manhattan Square Building, Mid Tower 12th Floor Unit F Jl. TB Simatupang Kav 1-s, Jakarta 12560 Email: info@cahayaguru.or.id  

Contact Person: Muhammad Mukhlisin = m.mukhlisin@cahayaguru.or.id / 085711086857

Back
2023© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.