20
Jun 2026
Diskusi dan Refleksi Radikalisasi Anak di Era Digital: Tantangan Baru Sekolah di Indonesia
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Jakarta – Yayasan Cahaya Guru (YCG) kembali menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “Radikalisasi Anak di Era Digital: Tantangan Baru Sekolah di Indonesia”. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Densus 88 Antiteror Polri dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghadapi tantangan dunia digital yang semakin kompleks.

Webinar yang diikuti guru dari berbagai jenjang pendidikan di seluruh Indonesia ini diawali dengan doa lintas keyakinan sebagai wujud komitmen Yayasan Cahaya Guru dalam merawat nilai-nilai keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan di lingkungan pendidikan.

Pendidikan sebagai Ruang Tumbuh Toleransi
Dalam sambutannya, Direktur Yayasan Cahaya Guru, Muhammad Mukhlisin, menegaskan bahwa isu intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan perlu menjadi perhatian bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Menurutnya, guru memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan peserta didik dan dapat mengenali berbagai gejala awal yang muncul di lingkungan sekolah.

Mukhlisin juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Ia berharap sekolah dapat menjadi “laboratorium perdamaian”, tempat tumbuhnya benih-benih toleransi, keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan sejak dini.

“Sekolah harus menjadi laboratorium perdamaian, bukan sebaliknya. Nilai toleransi dan kemanusiaan perlu ditanamkan sejak di ruang-ruang kelas,” ungkapnya.

Tantangan Baru di Era Digital
Moderator kegiatan, Ade Irawan, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital telah membuka akses pengetahuan yang sangat luas bagi peserta didik. Namun di sisi lain, ruang digital juga menjadi medium penyebaran berbagai konten negatif yang dapat mengancam nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan, termasuk intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Karena itu, webinar ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman guru mengenai risiko yang dihadapi anak dan remaja di era digital sekaligus memperkuat kemampuan sekolah dalam membangun lingkungan yang aman, inklusif, dan berkarakter.

Data dan Tren Radikalisasi Anak
Pada sesi pertama, AKP Mirza Triyunaputra dari Densus 88 Antiteror Polri memaparkan berbagai temuan lapangan terkait perkembangan ekstremisme dan radikalisasi pada anak.

Ia menjelaskan bahwa tindakan terorisme tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui tahapan yang dimulai dari intoleransi, berkembang menjadi radikalisme, kemudian ekstremisme berbasis kekerasan, hingga berujung pada tindakan terorisme.

Mirza juga mengungkapkan data yang menunjukkan bahwa selama periode Desember 2024 hingga Desember 2025 terdapat 112 anak yang terpapar radikalisme-terorisme di 26 wilayah Indonesia, dengan jumlah terbesar berada di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Temuan tersebut menjadi peringatan penting bagi dunia pendidikan untuk memperkuat upaya pencegahan sejak dini.

Menurutnya, proses rekrutmen anak kini tidak selalu dilakukan secara langsung. Beberapa kasus menunjukkan bahwa anak-anak diajak masuk ke kelompok tertentu melalui aktivitas yang tampak biasa, seperti permainan daring dan komunitas digital. Ia menegaskan bahwa permainan digital bukanlah masalahnya, melainkan adanya pihak-pihak yang memanfaatkan platform tersebut untuk menyebarkan pengaruh negatif.

Selain itu, Densus 88 juga menemukan fenomena True Crime Community, yakni komunitas yang mengagungkan kekerasan dan berpotensi memengaruhi perilaku anak. Data yang dipaparkan menunjukkan adanya puluhan anak yang telah mendapatkan intervensi setelah teridentifikasi terpapar komunitas semacam ini. Faktor yang sering ditemukan antara lain perundungan, kurangnya perhatian keluarga, penggunaan gawai berlebihan, dan masalah psikologis lainnya.

Penguatan Karakter sebagai Benteng Pencegahan
Sesi kedua menghadirkan Surya Nilasari, Analis Kebijakan Ahli Muda Kemendikdasmen. Ia menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak cukup dilakukan pada tahap penanganan, tetapi harus dimulai dari penguatan karakter peserta didik sebagai langkah preventif.

Menurutnya, pendidikan karakter harus diarahkan untuk membentuk generasi yang tangguh, memiliki nilai-nilai kebangsaan yang kuat, mampu berpikir kritis, serta bijak dalam memanfaatkan teknologi digital. Penguatan karakter tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan anak terhadap berbagai pengaruh negatif yang berkembang di ruang digital.

Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan sekolah aman dan nyaman yang melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga lingkungan sekitar sekolah. Pendekatan yang inklusif, non-diskriminatif, dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak menjadi fondasi utama dalam menciptakan budaya sekolah yang sehat dan aman.

Guru sebagai Garda Terdepan Pencegahan
Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan tingginya perhatian para guru terhadap isu radikalisasi dan keamanan digital peserta didik. Berbagai peserta menyampaikan komitmen untuk meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan sejawat, siswa, maupun komunitas sekolah di daerah masing-masing.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Cahaya Guru kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang belajar kolaboratif bagi para pendidik di seluruh Indonesia. Di tengah tantangan era digital, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping, penjaga nilai-nilai kebangsaan, serta garda terdepan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan penuh semangat perdamaian.

“Membangun sekolah yang aman dan damai adalah tanggung jawab bersama. Dari ruang kelas yang penuh toleransi, kita menyiapkan generasi Indonesia yang berkarakter, tangguh, dan siap menghadapi tantangan masa depan.”

Mari Menjadi Bagian dari Gerakan Sekolah Damai
Tantangan dunia digital akan terus berkembang, namun demikian pula peluang kita untuk membangun generasi yang lebih kuat, cerdas, dan berkarakter. Guru, orang tua, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan ruang belajar tetap menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang anak-anak Indonesia.

Yayasan Cahaya Guru mengajak seluruh pendidik untuk terus memperkuat literasi digital, menanamkan nilai toleransi, serta membangun budaya sekolah yang inklusif dan berorientasi pada kemanusiaan. Langkah kecil yang dilakukan di ruang kelas hari ini dapat menjadi fondasi besar bagi terciptanya Indonesia yang damai di masa depan.

Mari bergabung dalam jejaring pembelajaran Yayasan Cahaya Guru, ikuti berbagai webinar, pelatihan, dan diskusi inspiratif yang kami selenggarakan secara berkala. Bersama, kita wujudkan sekolah sebagai laboratorium perdamaian dan ruang tumbuh generasi Indonesia yang berkarakter, kritis, serta siap menghadapi tantangan era digital.

Untuk mendapatkan informasi kegiatan terbaru, silakan ikuti media sosial Yayasan Cahaya Guru dan bergabung dalam komunitas belajar guru dari seluruh Indonesia.

Bersama Guru, Menyalakan Cahaya Perubahan untuk Pendidikan Indonesia.

Back
2023© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.