10
May 2026
Memilih Daycare atau Sekolah Ramah Anak
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Memilih Daycare atau Sekolah Ramah Anak
M. Dhofier, Pengelola Sanggar Pendidikan SKI NUFA, Bumijawa, Tegal

Peristiwa kekerasan pada bayi di Daycare Little Aresha Yogyakarta adalah duka kemanusiaan yang tragis. Agar bayi-bayi di sana tidak rewel, mereka diikat kakinya. Bahkan, ditengarai dikasih minum obat agar kantuk dan tertidur. Kejahatan ini dinilai sistematis, sebab diketahui oleh pimpinan yayasan dan dilakukan oleh hampir seluruh pengasuh yang ada di sana.

Atas alasan apapun, tindak kejahatan ini tak boleh mendapatkan celah pemakluman karena kondisi keuangan yayasan dan alasan-alasan lain. Aparat penegak hukum harus jernih mengusut kasus ini hingga tuntas dan cepat. Sementara itu, pemerintah daerah tak boleh lalai apalagi sembunyi di balik kata-kata "kami kecolongan".

Jika mau menelisik lebih dalam, kasus ini tak bisa dilihat sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Daycare Little Aresha adalah potongan sistem sosial yang pincang. Kepincangan yang disebabkan oleh engagement. Kita mudah silau oleh tren, branding, viral, kemasan, merk beken dan deskripsi keunggulan produk yang mungkin saja palsu belaka.

Ada yang hilang dari kedirian kita ketika bicara soal pengasuhan dan pendidikan anak. Karena didesak oleh bertubi-tubi urusan pekerjaan, kadang kita lupa, sekadar kroscek, betulkah lembaga yang kita pilih untuk mendampingi anak tumbuh kembang adalah kredibel. Tak jarang, brand keren dan biaya mahal menjadi tolok ukur kualitas pelayanannya. Padahal belum tentu demikian. Ini bukan soal pilihan mana yang lebih baik antara perempuan yang memilih bekerja/berkarir atau fokus dirumah mengurus pekerjaan rumah tangga. Dikotomi semacam itu sudah tidak boleh menjadi perdebatan yang pelik, sebab, dua pilihan itu sama baiknya.

Pada catatan ini, saya ingin mengetengahkan kisah baik dari seorang ibu saat mendaftarkan anaknya di sebuah sekolah 'elit'. Namanya juga sekolah elit, sang ibu tidak mempersoalkan sarana dan kelengkapan gedung sekolahnya. Ia meluncurkan pertanyaan soal bagaimana gurunya mengajar, apakah guru-guru di sekolah sering ada diskusi membahas isu-isu pendidikan, apakah guru-guru pernah membaca buku-buku (ia menyebutkan judul-judul buku pendidikan yang populer).

Singkatnya, sang ibu tadi batal mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut karena mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan. Ini adalah keputusan cerdas, sang ibu tak mau terjebak oleh kemasan elit. Ia masuk pada urusan yang lebih subtantif yakni bagaimana pelayanan pendidikan yang menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan adil demi mendukung tumbuh kembang anak.

Sekolah yang betul-betul menghadirkan ekosistem belajar yang ramah anak mudah sekali dikenali. Salah satunya, guru-gurunya tak mudah tersinggung jika orang tua ingin mengetahui detail bagaimana suasana belajar yang berlangsung. Guru-gurunya terbuka terhadap masukan yang diberikan. Sekolah justru mengundang orang tua untuk sesekali menyaksikan dan mengikuti keseruan belajarnya anak-anak.

Sekolah yang menutup rapat keterlibatan orang tua pada ruang-ruang diskusi untuk membahas program belajar, ekskul, kurikulum, proses belajar, dan enggan mendengarkan aspirasi wali murid, patut diduga bukan tipe sekolah yang betul-betul ramah anak.

Pada diagram Reeves (Reeves :2006) disimulasikan empat tipe sekolah pada diagram kartesius. Sumbu-X menunjukkan upaya strategis yang dilakukan sekolah, sedangkan sumbu-Y memperlihatkan value sekolah tersebut. Pada kuadran I, disebut sebagai "sekolah pemimpin". Semakin positif sumbu-Xnya semakin tinggi nilai sekolah tersebut. Sekolah pemimpin bukan dipandang dari gedungnya yang mewah, bukan karena SPPnya mahal, bukan pula input siswanya diseleksi ketat secara akademik. Sekolah pemimpin mengutamakan proses terbaik.

Pada kuadran II, rencana strategis sekolah tidak ada, bahkan cenderung negatif, tapi prestasi sekolah bagus, itulah “sekolah beruntung”. Keberhasilannya ditentukan oleh faktor eksternal, gedung mentereng, fasilitas lengkap, biaya mahal, mungkin juga input siswanya pilihan. Sekolah seperti ini seperti sedang menyimpan bom waktu, saat kelengahan tiba, diskusi antar guru minim, dan kerjasama setara dengan orang tua tak hadir, begitu ada momen masalah berat, semua stakeholder kebingungan mengatasinya.

Pada kuadran ketiga (sumbu-X negatif, sumbu-Y negatif), menunjukkan rencana strategis tidak ada, prestasi sekolah pun amblas, itulah “sekolah kalah”. Kondisi sekolah ini umumnya ada sikap saling curiga antara rumah dan sekolah. Sekolah tidak mau disalahkan karena prestasinya rendah, orang tua menuntut sedemikian rupa. Pada tipe sekolah semacam ini, yang bermasalah adalah orang-orang dewasa (rumah dan sekolah) tapi yang jadi korban adalah anak-anak. Ekosistem belajar yang tidak nyaman hadir sebagai hantu yang terpaksa harus dijumpai setiap hari.

Kuadran IV (sumbu-X positif, sumbu-Y negatif) menggambarkan sekolah yang sudah memiliki rencana dan upaya strategis, namun prestasi belum tampak tumbuh. Menurut Reeves, ini adalah tipe “sekolah belajar”. Sekolah ini mungkin saja lokasinya tidak strategis, wali murid tidak mampu membayar tinggi, gedung sekolah masih sederhana, kendati begitu, guru-gurunya istimewa. Anak-anak di sekolah ini datang bukan karena kewajiban absen tapi mereka tertantang dengan kegiatan baru yang tidak membosankan, malah manantang keaktifan otak mereka untuk menyelesaikan masalah.

Kembali pada konteks Daycare Little Aresha Yogyakarta, meski bukan sekolah (pra sekolah), sebagai orang tua sebaiknya jeli. Sikap pengasuh dan pengelola yang tertutup wajib disangsikan sejak awal, apakah pelayanan pengasuhan di sana sudah bagus? Orang tua berhak mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin untuk menelisik bahwa tempat itu sungguh-sungguh akan menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak-anak.

Tulisan ini harus ditegaskan bukan sedang menyudutkan orang tua yang anak-anaknya menjadi korban. Kita semua prihatin dan sedih dengan kejadian ini. Catatan ini bisa menjadi masukan bahwa mempertanyakan dengan rinci kepada lembaga yang kita pilih untuk menitipkan anak adalah hak orang tua, seperti sang ibu yang batal mendaftarkan anaknya ke sekolah yang ia nilai, guru-guru di sana bukan tipe pembaca, bukan pula guru-guru yang gemar mendiskusikan isu-isu pendidikan. Setidak-tidaknya, jika kurang beruntung mendapatkan tipe “sekolah pemimpin”, maka upayakan mendapatkan tempat belajar yang bertipe “sekolah belajar” (kuadran III) pada simulasi Reeves.

Back
2023© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.