Latih Guru Kelola Keragaman, YCG dan Sagi Global School Bekasi Kolaborasi Cegah Kekerasan di Sekolah
Bekasi, 8 Januari 2025 — Direktur Eksekutif Yayasan Cahaya Guru (YCG), Muhammad Mukhlisin, menekankan pentingnya peran guru dan pimpinan sekolah dalam mencegah kekerasan di satuan pendidikan. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi teman belajar Pelatihan Guru di Sagi Global School, Bekasi, Rabu (8/1/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru dari SDIT dan SMPIT Ajimutu Global Insani, dengan total peserta 21 orang, terdiri dari 3 guru laki-laki dan 18 guru perempuan.
Dalam pemaparannya, Mukhlisin menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Menurut dia, kekerasan kini muncul dalam berbagai bentuk dan terjadi di hampir semua jenjang satuan pendidikan.
“Kekerasan adalah salah satu tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini. Saya pribadi resah karena kekerasan terjadi di berbagai jenis dan tingkatan satuan pendidikan,” ujar Mukhlisin.
Ia menilai, salah satu akar persoalan kekerasan di sekolah adalah belum terbiasanya anak-anak menerima dan menghargai keragaman di lingkungan sekitarnya. Kondisi tersebut, kata dia, kerap memicu perundungan, kekerasan fisik, maupun kekerasan psikis.
“Ketika anak tidak dibiasakan menerima keragaman temannya, maka yang muncul adalah perundungan dan berbagai bentuk kekerasan lainnya,” kata dia.
Oleh karena itu, Mukhlisin mengajak para guru untuk lebih mengenali latar belakang dan keragaman murid, sekaligus mengajarkan nilai-nilai saling menghargai dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pemahaman guru terhadap kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan sebagaimana diatur dalam Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023. Dalam regulasi tersebut, kekerasan di satuan pendidikan mencakup enam jenis, yakni kekerasan fisik, kekerasan psikis, perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi dan intoleransi, serta kebijakan yang mengandung kekerasan.
Meskipun Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023 telah diganti Permendikdasmen Nomor 6 tahun 2026. Mukhlisin masih berharap para guru memahami nilai, dan substansi pencegahan dan penanganan kekerasan. Sehingga perlindungan anak-anak di sekolah berjalan efektif.
Mukhlisin berharap guru dan pimpinan sekolah dapat bekerja sama membangun ekosistem pendidikan yang ramah dan aman bagi anak.
“Sekolah perlu memiliki mekanisme yang jelas, mulai dari pencegahan, penanganan, hingga pemulihan bagi korban kekerasan. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Sagi Global School, Rizal Lubis, menegaskan komitmen sekolahnya dalam mencegah dan menangani kekerasan secara serius.
“Kami berkomitmen untuk mencegah dan menangani kekerasan dengan baik di lingkungan sekolah. Prinsip sekolah ramah anak menjadi bagian penting dari penyelenggaraan pendidikan kami,” kata Rizal.
Ia menambahkan, Sagi Global School telah menjalin kerja sama dengan Yayasan Cahaya Guru sejak 2020 dalam upaya menerapkan prinsip-prinsip pendidikan yang aman, inklusif, dan menghargai keragaman.
“Kolaborasi ini kami pandang penting untuk memastikan sekolah menjadi ruang belajar yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak secara utuh,” ujar Rizal.
Dalam kesempatan tersebut, Mukhlisin juga menegaskan bahwa Yayasan Cahaya Guru (YCG) secara konsisten telah mendampingi sekolah-sekolah dalam menanamkan nilai-nilai keragaman dan mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan. Pendampingan tersebut dilakukan melalui berbagai pelatihan, baik yang diselenggarakan langsung di sekolah maupun melalui kerjasama lintas sektor. Dua tahun belakangan, YCG telah mendampingi dengan Dinas Pendidikan Lebak serta Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Tegal untuk topik pencegahan dan penanganan kekerasan.
YCG, kata dia, juga telah beberapa kali membantu sekolah meningkatkan kapasitas guru dalam penguatan nilai-nilai keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan sebagai fondasi penting dalam menciptakan iklim belajar yang aman dan inklusif.

