Senin, 21 April 2025. 130-an guru dari berbagai daerah di Indonesia hadir mengikuti kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini. Para peserta terdiri dari kalangan guru, mahasiswa, aktivis pendidikan, dan komunitas literasi dari seluruh Indonesia.
Direktur Eksekutif Yayasan Cahaya Guru, Muhammad Mukhlisin menyatakan webinar ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta tentang nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender, serta mendorong peran guru dalam menerjemahkan semangat emansipasi Kartini dalam pembelajaran dan kehidupan sekolah.
Empat “teman belajar” memberikan paparan dalam diskusi ini, yaitu: Wardiman Djojonegoro (Penulis Trilogi Kartini dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 1993–1998), Ade Irawan (Kepala Sekolah SMP Global Mandiri Jakarta), Anis Farikhatin (Guru Pendidikan Agama Islam SMA 1 PIRI Yogyakarta), dan Hasprina Resmaniar Boru Mangoensong (Guru Seni SMKN 1 Gudo, Jombang). Diskusi dimoderatori oleh Indah Nova Manurung, guru Bahasa Indonesia di Penabur Intercultural Secondary.
Wardiman Djojonegoro membuka sesi dengan sebuah video refleksi tentang pentingnya membaca Kartini sebagai pemikir besar dan pelopor pendidikan perempuan. Sementara itu, para guru berbagi praktik baik dari sekolah masing-masing yang berupaya membangun ruang belajar yang inklusif dan memberdayakan siswa tanpa memandang gender maupun latar belakang.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, dengan peserta mengangkat berbagai isu seperti tantangan bias gender di ruang kelas, penerapan nilai kesetaraan dalam pelajaran agama dan seni, hingga perlunya keberanian guru dalam menyuarakan nilai keadilan sosial.
“Kartini bukan hanya simbol budaya, tetapi sumber inspirasi untuk membangun pendidikan yang manusiawi dan setara,” ujar Anis Farikhatin dalam salah satu sesi diskusi.
Webinar ini menjadi ruang refleksi penting bagi pendidik dan masyarakat luas untuk terus menghidupkan warisan pemikiran Kartini dalam pendidikan yang lebih adil, setara, dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

