31
Jul 2024
Pelatihan Pendidikan Keragaman: Satu Langkah Pendidikan Untuk Gasong
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Kamis, 25 Juli 2024 — Desa-desa terpencil di Indonesia kerap mengalami pengabaian dan kekurangan sumber daya serta dukungan pemerintah yang berdampak pada kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan permukiman kumuh. Satu diantaranya adalah Kampung Gasong atau Kampung Bedeng yang mayoritas warganya bekerja sebagai pemulung. Di Kampung Bedeng tantangan pendidikan yang dihadapi para guru adalah; membangun kolaborasi dengan orang tua untuk menyekolahkan anaknya, memberikan motivasi siswa untuk belajar, mengelola kelas dan keragaman murid. Bersama PRIME Public Relations Konsultan yang terdiri dari 30 mahasiswa London School of Public Relations (LSPR), Yayasan Cahaya Guru (YCG), serta didukung oleh Insight Investment Management (IIM) menyelenggarakan kegiatan pelatihan guru dalam program “Satu Langkah Pendidikan untuk Gasong” yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dan pengembangan masyarakat di Kampung Bedeng, Jakarta Utara.

Kegiatan yang dilakukan bersama 7 guru SD Islam Darut Tauhid Kampung Bedeng ini dilaksanakan pada pukul 10.00 hingga pukul 12.00 siang. Sebelum kegiatan dimulai, Addis Maliki mahasiswa LSPR selaku moderator kegiatan ini mengajak seluruh peserta untuk berdoa agar pelaksanaan kegiatan pelatihan dapat berjalan dengan lancar.

Pada sesi pembukaan, Ivana Yahzeya ketua panitia program “Satu Langkah Pendidikan untuk Gasong” menyampaikan ucapan terima kasih kepada Guru dan Kepala Sekolah SD Islam Darut Tauhid yang telah memberikan dukungan selama pelaksanaan program. Ivana juga menyampaikan terima kasih kepada YCG atas kerjasamanya dalam program pelatihan guru yang diselenggarakan hari ini. Harapannya pelatihan ini dapat bermanfaat bagi guru-guru dalam mendidik murid-murid untuk meraih masa depan yang gemilang.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Darti - Kepala Sekolah SD Islam Darut Tauhid, beliau menjelaskan kondisi sekolahnya yang jauh dari kampung-kampung lainnya. Kampung Bedeng merupakan wilayah yang di sekelilingnya berdiri pabrik-pabrik dan gudang kontainer sehingga jarang tersentuh informasi seperti sekolah lain. Jumlah murid di SD Islam Darut Tauhid juga tidak sebanyak sekolah umumnya, murid-murid di sekolah ini berasal dari wilayah yang cukup jauh dari sekolah. Pihak sekolah tidak mematok jumlah murid di setiap tahun ajaran, mereka hanya berharap murid-murid yang bersekolah di sekolah ini dapat belajar dengan aman dan nyaman. Darti berharap dari pelatihan yang dilaksanakan di sekolahnya dapat menambah pengetahuan dan keterampilan guru-gurunya. 

Sesi pertama pelatihan guru kebinekaan mengajak peserta berkenalan, guru-guru diajak menuliskan nama, alasan menjadi guru, serta menggambar buah yang mencerminkan sekolah Darut Tauhid. Siti Amalia guru kelas 6 menyebutkan alasannya menjadi guru karena panggilan hati. Baginya buah Jeruk menjadi gambaran kondisi sekolahnya, kadangkala buah jeruk itu ada yang manis dan asam. Begitu juga situasi di SD Islam Darut Tauhid, kadangkala ada hal yang menyenangkan dan ada juga hal yang memprihatinkan. “Kadang ada omongan yang nggak enak, guru ngomong A, di belakang beda lagi, kondisi seperti ini menggambarkan buah jeruk yang asam”, tutur Bu Siti Amalia. Berikutnya Ramli guru Pendidikan Agama Islam mengungkapkan alasannya menjadi guru karena ingin mencerdaskan anak bangsa, dirinya ingin anak-anak di lingkungannya dapat meraih masa depan gemilang sehingga bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi. Ramli menggambarkan SD Islam Darut Tauhid seperti buah Durian. “Mengapa seperti Durian, karena jadi guru itu susah, memang di dalamnya enak, tapi perjuangannya berat. Mendidik anak itu perlu tahu caranya, sama seperti kita membelah durian, harus tahu jalurnya kalau tidak, kita bisa tertusuk durinya” ungkap Ramli.

Sesi selanjutnya, Muhammad Mukhlisin fasilitator Yayasan Cahaya Guru menjelaskan tujuan pelatihan yaitu untuk mengenalkan anak pada keragaman di sekitarnya. Peserta juga diajak untuk mengenal filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara tentang pentingnya kemandirian untuk kepentingan umum. Muhammad Mukhlisin menjelaskan bahwa guru jangan hanya memberikan murid pengetahuan saja, tetapi anak juga perlu diajarkan kemandirian dalam mencari pengetahuan. Tentunya pengetahuan yang dicari adalah yang dapat bermanfaat bagi kebaikan bersama. 

Di sesi keempat peserta diajak mendiskusikan dalam kelompok apa yang akan terjadi pada Kampung Bedeng 30 tahun kedepan. Mewakili kelompok 1, Siti memaparkan hasil diskusi dikelompoknya, “Kami membayangkan 30 tahun kedepan Kampung Bedeng akan menjadi kampung yang hebat dan disegani. Dalam arti kampung ini menjadi kampung yang religius. Karena banyak dari anak-anak kami yang lulusan pesantren dan lebih mengutamakan budaya dan keagamaan”, ungkap Siti. Dari hasil diskusi kelompoknya, Siti juga membayangkan nasib anak-anak kedepannya bisa menjadi lebih sukses dari saat ini dengan cara mengajarkan kewirausahaan. Menurut Siti, guru juga harus memberi contoh yang baik agar anak-anak dapat berperilaku baik di masa depan.

Sesi terakhir, paparan mengenai Tri Sentra pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara tentang kolaborasi tiga pusat pemangku kepentingan pendidikan yaitu Alam Keluarga (keluarga), Alam Pendidikan (Sekolah), dan Alam Pergerakan Pemuda/Pemudi (Lingkungan). Menurut Muhammad Mukhlisin sekolah perlu melibatkan tiga pemangku kepentingan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kolaborasi tiga pusat pendidikan akan menyelaraskan nilai-nilai pendidikan yang diajarkan di sekolah. Di sesi ini peserta diajak melihat keranjang gagasan yang dapat dilakukan untuk memperkenalkan keragaman pada anak. Beberapa gagasan yang dapat dilakukan diantaranya adalah Tangkap hal baik yang dilakukan anak. Menurut Syarifah Widiyati fasilitator dalam sesi ini, “Guru seringkali hanya melihat hal-hal kurang baik dari anak, misalnya ketika anak nakal, nilainya buruk, dan lain-lain, tetapi kurang peka dalam melihat hal baik yang dilakukan anak. Padahal pada saat anak melakukan hal baik dan guru memberikan apresiasi, itu akan meningkatkan rasa percaya diri bagi anak”.

Selanjutnya, sebelum menutup pertemuan, peserta diminta menuliskan refleksi dari pelatihan hal baru apa yang didapatkan, apa yang masih ingin diketahui, dan apa rencana yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Sasi Yulan guru kelas 3 menuliskan hasil refleksi yang didapat dari pelatihan akan mengimplementasikan praktik baik untuk memberdayakan potensi pada anak. Ia juga ingin mengetahui bagaimana cara menangani anak-anak sesuai dengan latar belakang mereka. Rencana yang akan dilakukan kedepannya yaitu melakukan pembiasaan baik dari 8 keranjang gagasan yang disampaikan dalam pelatihan.

Menutup perjumpaan, Muhammad Mukhlisin dari Yayasan Cahaya Guru mengungkapkan rasa terima kasih atas semangat dan partisipasi guru-guru SD Islam Darut Tauhid dalam mengikuti pelatihan Guru Kebinekaan. Muhammad Mukhlisin juga berharap pelatihan yang dilakukan hari ini dapat bermanfaat bagi guru-guru dan dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelasnya. [AK]

Back
2023© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.