02
May 2024
Pendidikan Bersetia pada Nilai-nilai
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Era teknologi informasi menjanjikan pelbagai kemudahan dan kesenangan. Pemenuhan kebutuhan bisa dilakukan dengan efisien. Jarak bukan kendala, waktu bukan halangan untuk memperoleh sesuatu yang kita kehendaki dengan cepat. Teknologi telah benar-benar mampu meretas sekat-sekat batas komunikasi. Jarak menjadi lebih pendek dan waktu semakin singkat.

Teknologi membuka peluang kepada kita untuk berkreasi membuat perangkat aplikasi digital yang menghadirkan layanan kemudahan dalam beragam jenis kebutuhan. Sayangnya, kebutuhan yang dimaksud lebih banyak bermuara pada kesenangan fisik semata. Sehingga, kebiasaan konsumtif melahirkan kemalasan yang tidak main-main. Jika dulu orang rela berpetualang untuk mendapatkan ilmu, bahkan untuk mengikat ilmu itu harus menulisnya dengan segala perangkat sederhana, tulis tangan, tinta celup, dan kertas yang langka, spirit keilmuan untuk mengabarkan nilai-nilai kemanusiaan tak pernah surut oleh sekadar berjalan jauh.

Seorang kawan yang berkecimpung dalam bisnis komunikasi digital mengatakan, hampir tidak ada yang tidak mungkin diwujudkan di era virtual. Produsen barang atau jasa bisa menyasar siapa saja yang dimaui untuk membeli produknya. Tanpa kita sadari, baju yang kita kenakan, makanan yang kita konsumsi, bukanlah yang sungguh-sungguh kita butuhkan, melainkan sesuatu yang kita inginkan. Dan keinginan itu timbul oleh pengaruh testimoni iklan yang muncul berkali-kali di gadget kita.

Kepuasan menjadi sekadar kenyamanan yang terkait kenikmatan jasmani. Yang berlaku kemudian, ingatan kita memendek, emosi negatif dominan, dan empati memudar. Kita mudah lupa arti kesetiakawanan sebab hubungan antar individu hanya diukur oleh timbangan pragmatis.

Sebelum menjalin relasi, kita lebih dulu bertanya, Apa yang menguntungkan dalam sebuah ikatan pergaulan? Jika kepentingan diri tak terpenuhi, ikatan sosial merenggang, kesadaran kita dibajak oleh kekecewaan dan kemarahan. Wajar saja ketika peristiwa bunuh diri gampang viral tapi kita melupakan peran apa yang mesti dilakukan. Peristiwa hanya menjadi semata peristiwa tanpa makna yang memanggil tanggung jawab kita.

Kondisi demikian tak boleh luput dari tanggung jawab pendidikan. Pendidikan adalah sebuah latihan yang mengaktifkan segala daya agar kepekaan terasah. Pendidikan jangan berhenti pada target berhala capaian yang hanya berupa angka dan infografis. Sementara murid-murid kita kerap jenuh mengikuti proses belajar yang memerlukan waktu panjang. Pengaruh kecepatan dan kemudahan dari gadget yang digenggamnya nyata memprihatinkan. Tak jarang pula kita menjumpai, siswa mengabaikan gurunya.

Kehilangan Momen

Dalam pendidikan, visi kesetaraan adalah hal penting. Namun hal ini hanya mungkin terjadi bila sistem pendidikan benar-benar berpihak pada kepentingan bangsa dan negara. Bukan sistem yang dibangun cukup berdasarkan niat baik lalu lepas landas mengibarkan kebijakan kurikulum baru dengan hanya mau mendengar suara pendukung. Yang protes dan kritis minggir, stempel pengesahan telah diketuk, mau tak mau, ikut saja.

Cara-cara semacam itu telah nyata mengangkangi prinsip kesetaraan. Jika kuasa lebih dominan tercermin dalam penetapan sebuah kebijakan, bukan tanpa dampak. Kecepatan ketercapaian target yang menjadi slogan penguasa juga akan dituntaskan dengan jalan "yang penting cepat". Soal nanti tujuan tersebut linier dengan cita-cita mulia pendidikan atau tidak, belakangan saja. Guru diburu oleh tugas yang serba baru dan tak boleh menunggu sebab semuanya serba buru-buru.

Dapat dikatakan bahwa perlakuan pemerintah kepada guru selayaknya birokrat yang tugas utamanya memenuhi berkas administratif. Bukan sebagai intelektual yang bisa menilai dan membangun sendiri visi terbaik dalam pendidikan yang perlu diraih di masa depan. Jika sudah begitu, murid menjadi korban malpraktik pembelajaran.

Seorang kawan guru di Bekasi mengudar perasaannya soal penerapan kurikulum baru. Ia prihatin, bahwa kebanyakan kawannya bukan sedang membuat skenario pembelajaran melainkan skenario konten praktik baik proses belajar. Belajar bukan direncanakan sungguh-sungguh lalu berlangsung natural, tapi jika ada seting yang salah, guru mengatakan, "cut, ulangi lagi..". Terasa sekali kuasa guru atas muridnya.

Sementara sahabat guru di Tegal lain lagi curhatannya. Ia mengatakan bahwa, perayaan dalam rangka pembelajaran P5 sesungguhnya telah dikemas dalam rapat guru. Sebagai formalitas, urutan temuan ide, diskusi proyek, dan eksekusi perayaan puncaknya "seolah-olah" dihasilkan bersama dalam suasana diskusi yang demokratis. Sementara teman saya yang pengusaha foto kopi, sering diminta membuatkan makalah oleh anak-anak SMA.

Begitulah adanya, kita menjadi kehilangan momen untuk melatih anak-anak berpikir mandiri, logis, dan jernih. Guru mendominasi seting belajar yang diinginkan. Keterlibatan siswa semata bumbu pelengkap sesuai script yang dibuat. Diskusi yang terbentuk tak mencerminkan suasana demokratis. Belajar demokrasi cukup simbolik melalui perayaan pemilihan ketua OSIS.

Apa yang bisa kita harapkan dari proses yang serba semu. Tanpa kesungguhan kesadaran soal pentingnya pendidikan, lalu memelihara kejernihan pikir dengan terus-menerus belajar, institusi pendidikan hanya akan melahirkan generasi budak kecanggihan yang serba mengagetkan. Pilihannya bukan pada nilai kemanfaatan teknologi itu melainkan larut pada kenikmatan rebahan melahap semua hiburan.

Alhasil, pendidikan haruslah bersetia pada nilai-nilai kebajikan. Pendidikan bertanggung jawab melahirkan generasi yang siap menghadapi segala bentuk kecanggihan. Bukan sebaliknya, justru berkontribusi melahirkan generasi yang bertekuk tunduk pada sihir teknologi yang melenakan.

Selamat memetik makna.

Back
2023© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.