Ada hal yang bikin kami gembira Selasa kemarin. Tentu dapat ditebak, kegembiraan kami itu pasti tidak jauh-jauh dari mengalami perjumpaan dengan kawan-kawan guru dan para pemerhati pendidikan. Perjumpaan itu terjadi di ruang Diskusi dan Refleksi Guru bertajuk 'Puasa dalam Tradisi Ragam Agama atau Kepercayaan' (26/03).
Kami gembira karena mendapat banyak sekali cerita tentang puasa dalam tradisi ragam agama atau kepercayaan, bahkan dalam agama yang sama pun ada tradisi-tradisi yang beragam tergantung wilayahnya.
Beragam Tradisi Menjalankan Puasa
Ada Meugang di Aceh dan Megengan di Jawa Timur, ada Arebe di Madura, ada tradisi selikuran di Yogya, ada Rotu dalam keyakinan Marapu, ada yang punya tradisi puasa weton dan puasa ngerowod, ada yang menjalankan puasa Daud.
Ada pula yang puasa dalam bentuk berpantang pada keinginan, ada juga yang melakukan catur barata penyepian di mana puasa tak hanya tentang tidak makan atau minum, ada yang berpuasa sebagai bentuk pencarian kehendak Sang Pencipta ketika dihadapkan kepada hal pelik. Sekarang ini 'takjil war' sedang viral dan punya dampak ekonomi positif bagi UMKM, namun tradisi 'jeburan' sehabis taraweh sepertinya asyik juga.
Cerita Teman Belajar tentang Puasa
Dalam kesempatan kemarin, kami menghadirkan lima orang Teman Belajar dari beragam agama atau kepercayaan. Mereka berbagi apa itu puasa menurut agamanya dan bagaimana memaknai puasa dalam interaksi dengan yang beragam di Indonesia kita yang bineka.
Ada Bhikkhu YM Jayamedho Thera dari Sangha Theravada Indonesia yang berbagi tentang puasa atau upawasa dalam tradisi agama Buddha, baik untuk rohaniwan maupun awam; ada Suster Vincentia HK dari Kongregasi Suster-Suster Belas Kasih dari Hati YESUS yang Maha Kudus atau disingkat Suster Hati Kudus, dari Keuskupan Tanjangkarang di Lampung yang berbagi tentang puasa dan berpantang dalam tradisi agama Katolik. Suster Vincent juga memperkenalkan istilah baru yaitu puasa ekologis.
Yang unik, ada Rabbi Yaakov Baruch dari Sinagoga Sha’ar Hashamayim di Tondano, Sulawesi Utara. Sinagoga adalah tempat ibadah umat Yahudi. Rabi Yaakov berbagi tentang puasa dalam tradisi agama Yahudi. Ternyata selain puasa Yom Kippur, ada banyak sekali puasa dan pantangannya. Banyak pertanyaan yang diajukan, untuk Rabi dengan sabar menjawab semua pertanyaan melalui kolom komentar dan secara langsung.
Dari tradisi agama Islam ada Nyai Nur Rofiah, Bil.Uzm., dari Jaringan KUPI atau Kongres Ulama Perempuan Indonesia, beliau juga dosen Pascasarjana di Perguruan Tinggi Ilmu AlQuran Jakarta. Bu Rofiah banyak menyoal relasi antara perempuan dan laki-laki, serta tentang takwa. Kata beliau, yang penting dari puasa bukan di sebulan menahan haus dan lapar, justru di waktu-waktu mempertahankan kesalehan setelah masa berpuasa. Oya, ada juga bang Maradu Naipospos dari Ugamo Malim yang berbagi tentang puasa yang dilakukan oleh umat Parmalim. Puasa mangan napaet namanya.
Ingin menyimak ulang atau penasaran? Silakan berkunjung ke kanal youtube kami untuk menyaksikan ulang diskusinya.

