Inspirasi Keragaman di Awal Tahun Ajar
Awal tahun ajaran baru adalah momen di mana guru memiliki kesempatan untuk membangun hubungan yang kuat dengan siswa dan menginspirasi mereka untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. Guru dapat mendorong kreativitas, pemikiran kritis, dan keinginan belajar siswa melalui metode pengajaran yang inovatif dan interaktif. Awal tahun ajaran baru juga membawa kesempatan untuk bekerja sama dengan rekan kerja dalam tim pengajar. Guru dapat saling berbagi ide, pengalaman, dan strategi pengajaran yang efektif. Kolaborasi ini dapat memberikan inspirasi baru, meningkatkan pemahaman, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan memotivasi.
Yayasan Cahaya Guru menggelar webinar dengan tajuk ”Melampaui Batas Ruang” pada Selasa (27/6/2023). Webinar ini mengundang teman belajar guru dari tiga sekolah dengan mata pelajaran yang berbeda. Di tangan guru yang kreatif, kesadaran pada keberagaman hadir dalam mata pelajaran Kimia, sekolah inklusi, serta masa pengenalan lingkungan sekolah saat memasuki tahun ajaran baru.
Mengenalkan Keragaman Kepada Murid
Hamka Malik, guru SMA Negeri 22 Makassar, Sulawesi Selatan, menjelaskan bagaimana mengaitkan mata pelajaran kimia dengan kehidupan sehari-hari. Hamka berusaha menyajikan teori tentang ikatan kimia. Ia menjelaskan kepada muridnya bahwa suatu unsur tidak akan stabil jika tak berikatan. ”Siswa mengantuk jika cuma belajar teori. Saya coba ceritakan tentang ikatan kimia itu dengan pesan agar manusia tidak menyendiri,” ucapnya. Dari sini, ternyata teori kimia yang dijelaskan dengan hal-hal yang dekat dengan siswa membuat mereka semangat dan mudah memahami mata pelajaran. Belajar tentang Kimia pun bisa dilakukan dengan mengajak melakukan permainan yang dihubungkan dengan nilai Pancasila dan keberagaman.
Tak jauh berbeda dengan Markus Malu Uran yang akrab dipanggil Teacher Aurell yang mengajar di SDK Lewouran Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Guru transgender yang merupakan peserta Sekolah Guru Kebinekaan angkatan 2022 ini mengenalkan keragaman melalui kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah atau MPLS dengan mengajak murid-muridnya bergotong royong membersihkan sekolah. Biasanya siswa kelas I SD itu masih belum terbiasa lepas dari orang tuanya. Teacher Aurel pun mendekati orang tuanya dan berkomunikasi untuk mencari tahu teman dekatnya yang ada di sekolah. Lalu lewat kegiatan kerja bakti, siswakelas I dipasangkan dengan siswa kelas atas yang dikenalnya sehingga siswa baru merasa nyaman, lalu berani untuk lepas dari orangtua.
Dalam kegiatan kerja bakti selain untuk saling mengenal, siswa pun diajak mengenal keragaman melalui macam-macam makanan lokal. Ada kebun sekolah yang ditanami pisang, siswa lalu diajak mengolah makanan dari tanaman pisang. Makanan lokal yang disajikan beralas daun pisang beragam bahannya, ada pisang rebus, jantung pisang, daun ubi jalar, bunga pepaya serta sambal yang dilengkapi daun sintrong (sejenis tumbuhan anggota suku Asteraceae) sebagai lalapan. Kegiatan makan bersama ini menjadi kegiatan rutin yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya potensi perundungan di sekolah.
Sementara itu Gigih Wicaksono, Kepala SMP dan SMA Lazuardi Kamila GCS, Surakarta, Jawa Tengah menyampaikan semangat keberagaman sudah tertanam dalam lingkungan sekolahnya. “Anak-anak kami dari awal sudah terbiasa dengan kondisi sahabat, teman-teman sekelasnya yang sangat beragam, jadi kita di sekolah itu mulai dari OB mulai sampai ke kepala sekolah harus sangat inklusif untuk anak-anak. Jadi tidak boleh ada diskriminasi”, ungkapnya. Menurutnya ancaman diskriminasi sangat berbahaya terutama di sekolah yang menyeragamkan kondisi lingkungannya. Di sekolahnya murid-murid dengan kondisi beragam berbaur bekerjasama dan berinteraksi.
Di masa pengenalan lingkungan sekolah, murid-murid diminta memakai pakaian tradisional batik dan sekolah memanggil dalang untuk memainkan wayang dengan tema anti bullying. Jadi wayangnya menceritakan tentang sosok wayang yang menindas temannya, dan kemudian mendapatkan akibatnya. Cerita tentang anti bullying cocok diperankan wayang tersebut dan anak-anak sangat menyukainya. “Ini adalah salah satu contoh kegiatan bagaimana kita memberikan pesona bahwa sekolah kita itu beragam”, ucap Gigih.
Belajar Untuk Hidup
Cerita dari para teman belajar webinar kali ini bukan hanya tentang menyampaikan bagaimana memberikan inspirasi keragaman dalam kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah atau pembelajaran di kelas. Menurut Henny Supolo Sitepu ketua Yayasan Cahaya Guru, “Mendengar cerita dari tiga teman belajar hari ini, bukan saja soal keragaman, tetapi lebih dari itu ada pengangkatan terhadap harkat kemanusiaan”. Sangat terasa sekali bagaimana dalam setiap kegiatan yang dilakukan terlihat alur antara pikiran hati dengan apa yang dilakukan. Sebagai seorang guru, perlu melihat seberapa jauh menekankan pentingnya kontekstualitas bagaimana kegiatan yang dilakukan membumi yang memang dirasakan oleh para murid.
Menurut Henny, pendidikan yang dilakukan dengan rasa dan welas asih serta mau mendengarkan membuat pembelajaran tentang keberagaman jadi bermakna. Hal ini dapat mengangkat kesadaran keseharian anak bahwa mereka bisa berperan. Mereka jadi memahami bahwa belajar itu demi hidup, bukan belajar demi mata pelajaran dan sekolah. ”Semua ini dapat terwujud karena guru memiliki keberanian untuk memerdekakan diri. Mereka bisa membuka potensi-potensi yang ada di lingkungan sekitar dengan baik. Guru jadi penggerak dalam arti sebenarnya,” tutur Henny.
Nah kawan-kawan guru, apakah ada yang mulai terpikir, permainan atau keunikan lain di wilayahnya sebagai bahan untuk mengajar di tahun ajaran depan? [AK]

