26
May 2023
Beragam, Berbagi, Bangkit bersama Guru
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Beragam, Berbagi, Bangkit bersama Guru

 

Diadakan peringatan secara besar-besaran hari 20 Mei 1908 sebagai hari kebangunan nasional, hari lahirnya cita-cita kemerdekaan nusa dan bangsa, hari timbulnya tekad untuk bersatu wutuh, agar dapat menghadapi segala kesukaran bersama | Ki Hadjar Dewantara, 1952.

 

JAKARTA, YCG – Hari Kebangkitan Nasional adalah sebuah momen untuk mengingatkan bahwa kita berbeda tetapi yang berbeda itu satu adanya. Menerima realitas ini berarti menepis anggapan bahwa yang satu lebih baik dari yang lain serta berupaya mengelola keragaman yang ada sebagai kekuatan bersama membangun bangsa.

Walaupun demikian, Indonesia juga tak lepas dari kecenderungan penguatan identitas yang umumnya mencuat pada momen-momen politik maupun situasi-situasi perebutan (suara) massa. Situasi yang membuat kita merasa jengah, apalagi bila media cetak dan elektronik, serta media sosial, dijejali dengan pelintiran kebencian, misinformasi, dan disinformasi. Intoleransi membayangi pesta demokrasi yang dinanti.

Yayasan Cahaya Guru mengajak para guru dan pemerhati pendidikan untuk mengingat lagi ajakan Ki Hadjar Dewantara yaitu menghadapi kesukaran bersama dengan tekad untuk bersatu sebagai bangsa. Ajakan ini sesungguhnya sudah disambut oleh banyak guru di beragam tempat dengan beragam cara. Ada yang mengambil peran melalui tulisan, ada yang mengambil peran melalui advokasi kebijakan daerah, ada yang mengambil peran lewat musik, dan begitu banyak peran-peran lainnya demi bangsa yang satu, Indonesia. 

Dorongan bagi para guru Indonesia membuka ruang berbagi praktik baik ragam inisiatif merawat semangat kebangsaan sekaligus menghadirkan narasi-narasi keragaman dan toleransi tersebut mengemuka dalam webinar yang digelar Yayasan Cahaya Guru bertajuk "Beragam, Berbagi, Bangkit", Rabu (24/5/2023). Acara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional 2023 dan Hari Kebangkitan Nasional 2023 ini menghadirkan dua guru, Sri Sulistiyani, dan Rio Pratama, serta Inisiator Amboina Ukulele Kids Community, Nico Tulalessy.

“Semua kita individu punya identitas. Namun, identitas kita masing-masing bukan untuk perpecahan, atau mencari konflik. Identitas yang beragam justru kekayaan, laboratorium raksasa untuk kebangsaan kita. Membuat karya menjadi kekayaan bersama dan merawat kebangsaan," papar Sri Sulistiyani atau Sulis yang sejak tahun 1998 hingga sekarang aktif menjadi guru Matematika di SMA Negeri Balung, Jember, Jawa Timur.

Pendidik harus berkolaborasi menyiapkan landasan yang kokoh untuk bangsa. Pendidikan menjadi sangat penting dan dibutuhkan. Kita mengamati kadang ada tindakan yang berdampak pada terpecah belahnya kebangsaan, misalnya politik identitas. Begitu juga perkembangan teknologi yang berdampak pada ikatan sosial kebangsaan. 

Pendidik dapat berkolaborasi dengan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pendidik perlu mengenali lingkungan sekitar. Banyak pembelajaran yang dapat diambil dari masyarakat. Masyarakat itu seperti buku yang dapat dibuka seperti kita membuka dunia. 

"Saya hidup tidak bisa sendiri. Orang hidup tidak bisa sendiri. Orang sukses tidak bisa sendiri. Sepanjang hidup saya akan mengabdikan diri membantu orang lain. Saya akan selalu cek diri, apakah saat ini saya sedang berada dalam barisan orang-orang yang berbuat baik atau ngga? Kalau ngga, putar balik!,” kata dia.

Sementara itu, Rio Pratama yang menjadi guru sejarah di SMAN 1 Pontianak mengutarakan alasannya dalam ​​merawat bangsa melalui advokasi toleransi, di Kalimantan barat, ada histori konflik yang panjang. Awalnya hanya suku dan etnis, kemudian menjalar ke agama. Konflik di Kalbar nyaris tidak ada resolusi konflik. Ketika konflik mereda, dianggap selesai. Itu jadi masalah karena tetap menyisakan stigma, prasangka, dan menjadi warisan.

“Kami bergerak mulai dari keresahan diri sendiri melihat potensi konflik di Kalbar. Keresahan itu melatari gerakan anak muda. Berupaya agar ada solusi dari keresahan itu. Satu diantaranya melalui advokasi peraturan daerah yang diinisiasi orang muda yang peduli toleransi di Kalbar,” papar Rio.

Dalam perjalanan advokasi toleransi yang dilakukannya, ada dua sisi yang dihadapi, sisi baik dan buruk, tantangan dan harapan. Ada radikalisme, intoleransi yang menjadi permasalahan yang memprihatinkan karena sudah menjalar ke generasi muda. Tapi, tidak semua yang dihadapi merupakan hal buruk, ada harapan-harapan dan hal yang tetap bisa kita lakukan.

Dirinya sempat mendapat dukungan dari pemerintah setempat dan inisiatif yang diusung sudah masuk dalam Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda). Tapi pemerintahan berubah dan orang-orang baru tidak melihat isu ini sebagai hal yang mendesak sehingga kurang mendukung. Terminologi tentang toleransi, HAM, dan gender dianggap sensitf, tidak untuk dibahas, dan membuat isu ini ditolak.

Sebagai guru, Rio mengajar 500 anak dan punya kedekatan emosional yang baik dengan murid. Komunikasi yang baik Ia lakukan karena dapat menjadi pintu untuk memasukkan hal-hal baik juga.

“Saya guru, saya muda, saya memposisikan diri sebagai guru dan fasilitator. Murid bisa berkomunikasi tentang pelajaran, tapi juga kita bisa beri insight soal toleransi dan persoalan sosial di Kalbar,” paparnya.

Keresahan akan munculnya konflik yang timbul akibat adanya perbedaan juga dirasakan oleh Nico Tulalessy seorang inisiator Amboina Ukulele Kids Community (AUKC). Dirinya mengingatkan kembali konflik yang pernah terjadi di Ambon pada tahun 1999. 

Menurutnya, saat ini Indonesia berada dalam posisi yang riskan terkait intoleransi. Ada banyak hal terjadi di bangsa ini. Indonesia adalah bangsa yang besar. Kalau kita tetap hidup dengan kondisi seperti ini, kita bisa bubar. Ketika orang dewasa bicara bagaimana menyelamatkan bangsa di forum-forum, apakah anak-anak memahaminya?

Nico menginisiasi musik ukulele untuk memerangi candu gadget anak di rumah dan di sekolah. Ia berusaha menjadikan musik ukulele sebagai virus yang sama seperti game-game online yang dimainkan anak anak. Di Ambon, musik ukulele ini sudah tidak banyak dimainkan. Ia menggunakan media sosial untuk mengkampanyekan musik ukulele. Awalnya dari 8 anak, menjadi 25 anak, dan sekarang sudah hampir 5.000 anak di Ambon bermain ukulele.

 

“Awalnya saya dengan anak-anak di komunitas saya, Kristen, kemudian datang anak-anak Muslim, ingin belajar jukulele juga. Kami nyanyi-nyanyi lagu Ambon, lagu-lagu perdamaian, lagu persaudaraan. Oke kita tidak hanya bicara candu gadget tapi juga bisa bicara perdamaian di Ambon, kota yang pernah berkonflik dengan ribuan korban,” ungkapnya.

 

Melalui ukulele, anak-anak bangsa bersatu mencintai tanah airnya, berperan untuk kebaikan bersama dan merayakan persaudaraan mereka. Dengan satu gerakan yang tepat, bisa menghasilkan dampak besar untuk kemanusiaan kita. Semoga! [AK]

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.