Menelusuri jejak akulturasi budaya Indonesia dan Tionghoa di Sepanjang Sungai Cisadane.
Oleh: Cinthya Puji Bintarti
Perjalanan budaya bersama teman teman Yayasan Cahaya Guru beberapa waktu yang lalu mengingatkan saya kembali bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari keragaman nusantara yang telah ada sejak beberapa abad lalu. Keberadaan etnis ini juga mewarnai dinamika budaya Indonesia dengan proses akulturasi dan asimilasi. Bahkan di masa perang maupun pergerakan kemerdekaan, tidak sedikit warga keturunan Tionghoa yang turut andil dalam mewujudkan kedaulatan negara.
Perjalanan ini diawali dengan menelusuri sungai Cisadane, di sepanjang perjalanan kita bisa melihat beberapa rumah-rumah kongsi yang berada di tepian sungai. Kami akhirnya berhanti di depan sebuah rumah yang terlihat masih terawat baik. Rumah itu dikenal dengan Roemboer (Rumah Burung) Tangga Ronggeng yang terletak di jalan Cilangkap no 44. Dulunya rumah ini merupakan modiste kebaya encim, namun kemudian dijadikan sarang burung wallet seperti rumah rumah yang lainnya di Kawasan Pasar Lama Tangerang. Pemilik rumah ini adalah pak Udaya Halim yang juga pemilik Museum Benteng Heritage di Pasar Lama Tangerang.
Di depan Roemboer ada rumah penulis buku silat yang terkenal Oey Kim Tiang atau yang dikenal dengan OKT. Beliau dikenal telah menerjemahkan lebih dari 100 buku silat dari Bahasa Hokkien menjadi Bahasa Melayoe Pasar atau Melayoe Rendah, selain itu beliau merupakan salah seorang yang mempopulerkan kesusastraan Melayu Tionghoa.
Perjalanan dilanjutkan menuju Klenteng Boen Tek Bio. Klenteng ini merupakan klenteng tertua diantara tiga kelenteng paling tua yang ada di Tangerang. Klenteng yang dibangun sejak 1684 Masehi ini masih kokoh di tengah Pasar Lama Kota Tangerang. Disini kami dijelaskan bedanya Vihara dan Klenteng. Vihara merupakan tempat ibadah umat Budha. Sementara, Klenteng merupakan tempat ibadah bagi umat Konghucu atau tempat persembahyangan/penghormatan para leluhur orang Tionghoa. Klenteng Boen Tek Bio dibangun dan didedikasikan untuk menghormati Dewi Kwan Im. Di klenteng ini terdapat beberapa pintu yang didalamnya merupakan ruang persembahyangan para dewa-dewa, diantaranya : Dewi Kwan Im Hud Couw, Thian Siang Seng Bo, Hok Tek Cheng Sin, Kwan Seng Tee kun, dsb.
Setelah kami melihat aktivitas dan berkeliling sekitar bangunan klenteng, kami berjalan sekitar 100 meter menuju Museum Benteng Heritage. Perjalanan menuju museum melewati pasar tradisional yang menjual sayuran, ikan (terutama ikan Bandeng) dan beberapa makanan tradisional yaitu kue keranjang, kue bulan, dodol, dan kue Ketapang.
Sampailah kami di sebuah bangunan hasil restorasi bangunan tua yang diperkirakan dibangun pada pertengahan abad 17, Museum Benteng Heritage. Bangunan yang terletak di Cilame no 20 Pasar Tangerang ini merupakan cikal bakal pusat kota Tangerang yang dulunys disebut Kota Benteng.
Di Museum Benteng Heritage, kami diperkenalkan dengan pak Udaya atau Liem Tjin Pheng, seorang nasionalis pemilik Roemboer yang merestorasi bangunan Museum Benteng Heritage. Pak Udaya menjelaskan dengan sangat menarik, mulai dari perjalanan Laksmana Cheng Ho sampai jejak budaya Tionghoa yang ada pada makanan yang disantap oleh kita.
Perjalanan Cheng Ho banyak meninggalkan jejak budaya, tidak hanya berupa benda-benda seperti pikulan, keranjang, batik, permainan seperti mah jong, kartu ceki, peralatan makanan dan sebagainya tetapi juga meninggalkan jejak budaya berupa makanan, istilah istilah yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dan sebagainya.
Sebagai contoh : Kedelai, dalam bahasa Tionghoa disebut Tau. Jika ditanam maka akan menjadi Tauge, digiling/dihaluskan menjadi Tahu, dan difermentasi menjadi Tauco.
Atau kain batik dengan warna dan motif yang khas seperti Batik Tiga Negeri dengan warna bernuansa merah, biru dan sogan, serta motif naga, bunga lotus dan burung hong.
Tidak hanya itu, kami juga diperkenalkan dengan I-Ching Hexagrams, yaitu salah satu kitab penting dan paling awal dalam peradaban Tiongkok kuno. Awalnya I ching digunakan untuk memprediksi dan menggambarkan masa depan, namun kemudian penggunaan I-Ching meluas hingga menjadi sumber filosofi, seperti yang diajarkan Konfusius yang menganggap I-Ching sebagai kitab tentang kebijakan moral.
Kitab I Ching awalnya mengandung symbol berupa garus putus dan garis lurus yang tidak putus, garis ini kemudian dikombinasikan dan membentuk trigram. Kemudian berkembang, trigam tersebut digabungkan untuk membentuk 64 simbol yang terbentuk dari 6 garis putus-putus dan garis lurus yang tidak putus, yang disebut hexagram. Dari hexagrams tersebut terdapat garis lurus Yang sebagai simbol ayah dan figur maskulin, dan garis patah Ying yang menjadi simbol ibu dengan figur feminine. Berdasarkan hal inilah praktisi IChing menginterpretasikan maknanya dalam memandu seseorang.
Berkunjung ke Museum Benteng Heritage, tidak semata mata belajar tentang sejarah etnis Tionghoa tetapi kita juga belajar tentang peran Yo Kim Tjan yang membantu merekam lagu Indonesia Raya yang masih berupa alunan musik tanpa lirik.
Pak Udaya menceritakan tentang piringan hitam asli rekaman lagu Indonesia Raya yang masih disimpan oleh Yo Kim Tjan sampai tahun 1957. Pada kesempatan ini, kami diperdengarkan lagu Indonesia Raya melalui piringan hitam dan cerita tentang lagu tersebut Menurutnya piringan hitam asli beserta ratusan salinannya disita oleh Jenderal AWS Mallaby.
Dari cerita pak Udaya, kami jadi tahu tentang sejarah Indonesia Raya, Gedung Sumpah Pemuda, dan beberapa peristiwa lainnya yang berkaitan dengan peran etnis Tionghoa dalam kemerdekaan Indonesia. [CPB/AK]

