21
Nov 2022
Kecantikan Jagat Diri, Keindahan Semesta
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 
Oleh : Muhamad Dhofier, Guru Bineka Yayasan Cahaya Guru, penulis buku "Sekolah yang Menumbuhkan". 
 
Menurut pandangan Ki Hajar Dewantara (KHD), hakikat pendidikan adalah tuntunan. Artinya, mendidik bermakna menuntun bukan mengisi. Menuntun segala kodrat yang ada pada diri sang anak agar menjadi manusia seutuhnya yang selamat dan meraih kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Juga, sebagai anggota masyarakat yang mampu menunaikan peran sesuai bakat, minat, atau kecerdasan pada bidang yang digeluti.
 
Bukan kita yang menyebabkan anak bisa bicara, berjalan, dan berhitung. Potensi atau kodrat untuk melakukan itu sudah ada dalam diri anak. Kita hanya menuntun. Membantu menggali kekuatan untuk memunculkan potensi itu mewujud. Demikian pula untuk kemampuan yang lebih kompleks. Anak sudah barang tentu, perkembangan fisiknya diiringi perkembangan psikis dan inteligensi untuk memecahkan persoalan yang lebih rumit.
 
Tapi, tak bisa serta merta kapasitas semacam itu muncul dengan sendirinya. Butuh guru untuk mendampingi anak belajar dengan stimulus yang memberdayakan, bukan mendikte apa yang kita orang dewasa kehendaki. Anak bukanlah miniatur orang dewasa (Thoha Faz : 2008). Maka pendekatan belajar kepada anak-anak mestilah aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak.
 
Misalnya, untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak, yang paling dibutuhkan adalah aktivitas fisik yang menyehatkan serta pembiasaan tanggung jawab pribadi. Selain ragam olahraga, permainan tradisional sangat baik dilakukan oleh anak-anak. Transfer pengetahuan yang terlalu banyak dan aturan yang ketat justru akan membonsai daya cipta, rasa, dan karsa. Penjejalan pengetahuan yang terjadi di Sekolah Dasar, terjadi pula di PAUD malah kontradiktif dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
 
Demikian halnya bila kita membincang soal pendidikan lingkungan. Jika yang ada dalam benak kita adalah mengisi sebanyak-banyaknya pengetahuan kepada anak-anak terkait isu lingkungan, menurut saya, akan sia-sia belaka berharap kesadaran lingkungan dapat meresap dalam sanubari anak-anak.
 
Setiap hari kamis, saya mengajar di PAUD. Suatu kali, saya ajak anak-anak berjalan berkeliling lingkungan di luar sekolah. Kepada mereka saya mengatakan bahwa, mereka boleh bertanya apa saja tentang apa yang mereka saksikan. Dan di luar dugaan, pertanyaan mereka sungguh-sungguh pertanyaan yang dalam. Misalnya, dari mana asal air yang kita minum? Air sungai ini ujungnya di mana? Apakah pohon itu juga haus seperti kita? Dan Sejujurnya, pertanyaan-pertanyaan ini tak mampu saya jawab dengan segera. Tapi di situlah letaknya hakikat belajar. Tema pembelajaran pada pertemuan berikutnya merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Belajar mengalir begitu alami. 
 
Tiga Tujuan Pendidikan
 
Secara gradual, tujuan pendidikan yang sesuai dengan cita-cita Ki Hajar Dewantara ada tiga. Pertama, Hamemayu hayuning sariro. Artinya, mempercantik kecantikan diri. Diri kita ini indah, maka tugas kita adalah merawat keindahan diri. Lebih dari itu, kita diharuskan memperindah. Kesadaran akan diri sangat penting. Anak-anak sedini mungkin, bertahap perlu dilatih mengenal dirinya. Mereka sesering mungkin perlu diajak menjelajah ke dalam diri. Caranya tentu dengan pendekatan yang khas kepada anak-anak. Bermain, bercerita, dan berikan tantangan sederhana yang dekat dengan dunianya. Tanpa belajar mengenal diri sejak belia, daya yang layaknya permata itu akan tertimbun oleh waktu dan bisa kadaluarsa  oleh perubahan yang terus menderu.
 
Kedua, Hamemayu hayuning bongso, yang berarti memelihara harmoni bangsa. Kita patut bersyukur, para perintis dan pendiri bangsa Indonesia adalah manusia-manusia paripurna yang telah mampu menanggalkan ego primordialisme demi mengikat temali kebangsaan dalam satu rajutan "Bineka Tunggal Ika". Jika pribadi telah menemukenali keutuhan diri, maka yang ada dalam jiwa adalah semata demi kepentingan bangsa. Sikap demikian yang telah ditorehkan para pendiri bangsa ini. Keragaman bukan menjadi gangguan untuk berpadu satu melainkan kekayaan nada dan irama yang melantunkan kesyahduan dalam simfoni kebangsaan.
 
Ketiga, Hamemayu hayuning bawono. Memperindah keindahan semesta. Puncak dari tujuan pendidikan adalah alam yang terjaga kelestariannya. Kecantikan di dalam diri individu-individu akan berdampak pada kesatuan dan persatuan bangsa. Diri senantiasa setia dan sedia manakala kepentingan bangsa memanggil. Dan, adalah sebuah keniscayaan, semesta ini lestari hanya oleh bangsa yang harmoni. Yaitu bangsa yang mendidik manusia-manusia yang ada di dalamnya menjadi pribadi yang merdeka, pribadi yang berbudaya. Sebagai anak kandung semesta, sudah sewajarnya manusia membaktikan diri pada sang Ibu pertiwi, alam semesta. Maka inilah yang sebenar-benarnya pengabdian diri pada sang Maha Agung, Pencipta jagat raya.
 
Tiga Pondasi dalam Mendidik
 
Untuk menunaikan tujuan pendidikan di atas, dasarnya adalah apa yang menjadi semboyan pendidikan kita. Pertama, Ing Ngarso Sung Tulodho. Di depan, tugas kita adalah menjadi teladan. Artinya, berperan dalam lingkungan apa saja, sejatinya kita adalah pemimpin (Ing Ngarso). Untuk itu, tugas kita adalah Sung Tulodho, yaitu meneladankan perilaku benar, baik, dan indah. 
 
Kedua, Ing Madyo Mangun Karso. Di tengah, bersama-sama saling membangun inisiatif. Artinya, pendidik juga perlu tampil di tengah, sebagai teman belajar, sebagai kawan diskusi yang menyenangkan. Murid bukan objek belajar yang selalu menerima perintah melainkan sama-sama subjek belajar yang diberi ruang sebebas-bebasnya untuk berpendapat, berkarya, bermusyawarah, melahirkan gagasan-gagasan positif. Pada momen ini, pendidik berada di tengah, Ing Madyo, maka yang perlu dilakukan adalah Mangun Karso, bersama-sama siswa membangun inisiatif-inisiatif, berinovasi, dan berkreasi. 
 
Ketiga, Tut Wuri Handayani. Dari belakang, pendidik memotivasi dan memberdayakan. Tugas seorang penuntun bukan mendikte. Sebagai penuntun, Tut Wuri, maka peran yang diambil mestilah Handayani, memberdayakan. Anak didik perlu diberikan kepercayaan bahwa dirinya mampu. Kodrat yang tersembunyi mampu dikeluarkan karena dorongan diri yang kuat. 
 
Tiga fondasi dalam mendidik tersebut, tak hanya berlaku formal di sekolah. Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa tiga pusat pendidikan adalah sekolah (alam perguruan), rumah (alam keluarga), dan lingkungan (alam pergerakan pemuda). Setiap kita, orang dewasa merupakan pendidik, sudah selayaknya turut berperan aktif sesuai kapasitas yang bisa kita sumbangkan dalam proses pendidikan. 
 
Sebagai mahasiswa, berikanlah peran yang bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat. Misalnya inisiatif diskusi yang kita lakukan sekarang. Dan ini yang disebut sebagai Ing Madyo Mangun Karso. Dalam lingkup yang sejajar (Ing Madyo), maka kita bersama-sama Mangun Karso. Membangun kreativitas dan melakukan inisiatif-inisiatif. Laku seperti ini akan dilihat oleh adik-adik sekolah yang masih perlu didampingi dalam belajar. 
 
Sebagai orang tua, segala ucapan dan tindakan sudah semestinya mengandung kearifan. Lakukan hal sederhana di rumah sehingga bisa diikuti oleh anak, semisal mengelola sampah, membuat resapan air, atau menanam. Sebagai guru, hal yang paling utama sebelum bicara ilmu, adalah budi pekerti yang bukan saja menjadi materi pelajaran melainkan bersenyawa dalam pemikiran, perkataan, dan tindakan sang guru. Dan budi pekerti yang dimaksud tak terbatas dalam hubungannya dengan sesama manusia tapi juga bijak memperlakukan alam. Guru misalnya, membawa tempat makan dan minum dari rumah untuk meminimalisir sampah. Menghemat listrik di sekolah, hemat dalam penggunaan air. Juga membuat tema-tema pembelajaran yang terkait lingkungan. Misalnya riset sederhana tentang kualitas air, daur ulang sampah, membuat biopori, dan lain sebagainya. 
 
Alhasil, membincang isu lingkungan dalam lingkup pendidikan, menurut saya, sangat penting. Tapi, tentu bukan sekadar hapalan pengetahuan. Hal ini dapat terlaksana jika hakikat pendidikan yang dipetuahkan oleh Ki Hajar Dewantara dapat dipraktikkan dalam kelas-kelas di sekolah kita, di rumah, dan lingkungan pergerakan pemuda. Semua elemen perlu andil menerapkan apa yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara. Sebagai pijakan awal melangkah, mulailah dari mengenali potensi diri, kenali potensi lingkungan lalu menggunakan keduanya untuk kebaikan dan perbaikan. Mengeksplorasi alam dalam kerangka dialog bersama alam akan menghasilkan hubungan yang selaras antara manusia dan semesta. 
 
Demikian pentingnya diri dan lingkungan, kami di Yayasan Cahaya Guru terus menggemakan cara belajar, "kenali potensi diri, kenali potensi lingkungan, gunakan keduanya untuk kebaikan dan perbaikan". [MD/AK]
Back
2023© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.