12
Oct 2022
Diskusi dan Refleksi: Menghadirkan Kegembiraan Mengajar
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Kenapa Guru Perlu Bergembira Saat Mengajar? 

 

Yayasan Cahaya Guru, Jakarta - Guru juga manusia yang memiliki beragam emosi, seperti senang, sedih, gembira, dll. Tapi, mengapa guru perlu menghadirkan kegembiraan saat mengajar? Itje Chodidjah, Pendidik sekaligus  Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) menyatakan ada dua alasan penting. Pertama, kegembiraan itu menular. Kedua, suasana yang gembira pada proses pembelajaran akan mengembangkan sel-sel otak anak. 

“Waktu bersama anak-anak di kelas itu sangat berharga. Kita jangan memukul dengan suasana yang tidak nyaman. Kita semua pasti pernah menjadi murid. Apa yang kita rasakan jika ketika guru masuk kelas mukanya jutek, pasti berpengaruh pada proses pembelajaran. ” Tegas Itje Chodidjah pada Diskusi dan Refleksi Menghadirkan Kegembiraan Mengajar yang dilaksanakan Yayasan Cahaya Guru, Rabu (12/10/2022). 

Itje juga menambahkan, ada lima hal utama yang harus dimiliki guru untuk mengembangkan kegembiraan dalam mengajar. Pertama, guru perlu memiliki kepedulian baik kepada diri sendiri dan juga kepada siswa. Kedua, guru juga perlu menyadari bahwa ruang kelas adalah panggung kehidupan, bukan panggung drama. Ketiga, penting buat guru-guru memiliki keyakinan untuk bisa berkembang (growth mindset). Keempat, memiliki keyakinan bahwa murid-murid juga memiliki kemampuan untuk mengambang diri. Kelima, guru harus mempersiapkan dengan baik kebutuhan-kebutuhan mengajar. 

Pada kesempatan yang sama, pemerhati pendidikan dan pendiri pendidikan karakter education consulting, Doni Koesoema menyatakan, guru perlu menyeimbangkan antara kebutuhan pengembangan diri dan fokus pada siswa. 

“Sekarang ini banyak perubahan program dan adaptasi, guru banyak tuntutan untuk menginput data dan mengupload bukti pembelajaran di platform-platform. Tugas guru bukan hanya belajar mandiri secara daring, namun perlu menyeimbangkan dan kembali fokus pada siswa” tegas Doni. 

Menurut Doni, ada tiga kata kunci yang diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara terkait makna pendidikan yaitu tuntunan hidup, keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Oleh sebab itu, Doni menyarankan para guru untuk terus menata hati dan refleksi. 

“Guru perlu reflektif, hening, dan mengendapkan pengalaman dalam menginternalisasi nilai, ilmu, dan sikap dalam kehidupan.” ucap Doni. 

Pria yang telah menulis puluhan buku pendidikan karakter ini juga menekankan pentingnya mengembangkan pemahaman bahwa mendidik adalah sebuah seni yang dinamis, kontekstual, dan  mengembangkan keterampilan berpikir kritis. 

Hal senada disampaikan oleh Zeth Piter Sinay, Guru SMAN Siwalima Ambon. Menurutnya, kegembiraan belajar tidak semata suasana kelas menyenangkan, atau anak-anak terlihat tersenyum dan tertawa, namun memastikan juga anak-anak berkonsentrasi penuh dan memahami pembelajaran. 

“Mengajar itu seni untuk mengolah kata, mengelola perbedaan, termasuk mengelola konflik di kelas. Tidak semata itu, seorang guru harus menjadi pelaku seni itu sendiri. Pendidikan berarti pula memenuhi hak pendidikan anak-anak. Untuk memenuhi hak itu kita tidak bisa sendiri, perlu kerjasama dengan guru lain, berbagi pengalaman pembelajaran supaya kita bisa menjadi guru bisa lebih kuat” pungkas Zeth. [MM]

Dokumentasi Youtube: Menghadirkan Kegembiraan Mengajar
Back
2023© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.