Sekolah Guru Kebinekaan 2022: Pertemuan #7
Sejarah Keragaman Kebangsaan dan Kemanusiaan
Sabtu, 20 Agustus 2022
RUANG VIRTUAL, 20 AGUSTUS 2022 - Pertemuan SGK di akhir pekan ketiga bulan Agustus ini diiputi semangat merayakan kemerdekaan RI ke-77. Beberapa peserta menceritakan keseruan perayaan HUT RI di tempatnya. Saat diminta mengingat kembali kapan terakhir kali dengan bangga menyebut diri kita berbangsa Indonesia?, Misri Fajar Sodikin, seorang guru di Jakarta menyampaikan, “Saya sangat bangga saat melihat perayaan upacara tujuh belasan di sekolah, kami guru dan peserta didik mengenakan kostum dari berbagai budaya yang ada di Indonesia.”
Kawan-kawan guru yang hadir bukan hanya diminta menyampaikan rasa bangga saja, tapi juga kapan kebanggaan itu memudar dari diri kita. Di antara peserta yang hadir, Dina Tuasuun menulis perasaanya melalui chat box, “Setiap saat saya bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia, meski kadang-kadang muncul rasa miris dan prihatin ketika melihat ada yang mengoyak kebersamaan kita.” Dina menyampaikan kekecewaannya ketika menyaksikan perlakuan sebagian kelompok agama terhadap kelompok agama lain. “Saya menyaksikan sendiri, ketika anak-anak keluar gedung gereja, ada perlakuan dari kelompok agama lain yang menyakitkan yang terus teringat oleh anak-anak.”, ungkap Dina.
Di hari penuh semangat itu, para guru belajar sejarah dalam bingkai keragaman, kebangsaan dan kemanusiaan. Kesadaran sejarah sangatlah penting karena berfungsi memperkokoh identitas kolektif suatu bangsa. Sejarah bukan sekedar deretan peristiwa dan tahun. Ia kerap menjadi pertarungan tanpa akhir tentang bagaimana masa lalu ditampilkan dan fakta diciptakan.
Jalan Sejarah Bangsaku
Setelah menilik sejenak pembelajaran pada pertemuan-pertemuan yang telah lalu dan berefleksi tentang implementasi keragaman, kebangsaan dan kemanusiaan yang telah dilakukan di kelas. Para guru diajak membuat proyek linimasa Jalan Sejarah Bangsaku. Mereka berbagi dalam tiga kelompok yang mewakili periode sejarah tertentu. Memang ini bukan periode baku, hanya untuk memudahkan saja, walau ternyata tak pernah mudah membicarakan sejarah.
Guru-guru di kelompok pertama, ditemani Komar, merekoleksi ingatan dan pengetahuan tentang momen-momen bersejarah di periode sebelum kemerdekaan (1901 - 1942). Guru-guru di kelompok kedua, ditemani Zein Ilyas, merekoleksi ingatan dan pengetahuan tentang momen-momen bersejarah di periode sekitar kemerdekaan (1942-1959). Sedangkan di kelompok terakhir, guru-guru ditemani Chandra Putri, merekoleksi ingatan, pengetahuan dan pengalaman sejarah di periode setelahnya hingga saat ini, terutama terkait represi terhadap keragaman (>1959)
Mendiskusikan dan menemukan momen-momen penting ternyata susah-susah gampang. Para guru harus mengingat lagi apa yang mereka pelajari dan apa yang pernah mereka ajarkan, serta membuka lagi berbagai referensi yang sudah disiapkan kawan-kawan YCG. Untuk setiap momen yang berhasil diidentifikasi, mereka juga harus memikirkan konteks, apakah momen itu berkontribusi positif bagi keragaman, kebangsaan dan kemanusiaan (K3). Atau sebaliknya, menjadi tantangan besar.
Jika digambarkan dalam sebuah lembar linimasa, Jalan Sejarah Bangsaku membentang lebar seturut periode sebelum kemerdekaan hingga kini. Guru-guru pun mencatat hasil rekoleksinya ke linimasa tersebut dengan memperhatikan konteks ruang dan waktu.
Hasil dari kelompok kesatu banyak mencatat sejarah diwilayah kawan-kawan guru, sejarah sebelum kemerdekaan tergambar bahwa gerakan-gerakan untuk mencapai kemerdekaan masih bersifat sendiri-sendiri, dan belum terarah. Peristiwa sejarah yang tercatat seperti berdirinya sekolah-sekolah rakyat di beberapa daerah, kemudian adanya perbedaan kepentingan antara pendukung Belanda dengan pribumi. Dalam kelompok ini guru-guru agak kesulitan untuk mengingat waktu yang sudah lama terjadi.
Hasil diskusi kelompok dua mencatat sejarah yang terjadi pada masa periode sekitar kemerdekaan. Di bagian yang mendukung (K3) ada peristiwa Perubahan isi Piagam Jakarta hingga pada saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Di bagian tantangan K3 terjadi peristiwa pemberontakan di berbagai wilayah Indonesia, hingga peristiwa dikeluarkannya Dekrit Presiden yang membubarkan konstituante.
Sedangkan hasil kelompok ketiga mencatat peristiwa yang mendukung K3 diantaranya kebijakan Presiden Gusdur meresmikan IMLEK, Permendikbud No 27 Tahun 2016 tentang penerimaan hak peserta didik penghayat, hingga masa reformasi. Dibagian tantangan K3 peristiwa yang terjadi seperti peristiwa G30S PK, masa Orde Baru, konflik Sampit dan Poso hingga adanya Bakorpakem yang bertugas mengawasi aliran-aliran kepercayaan.
Secara garis besar, dari hasil pemetaan teman-teman, ada 33 peristiwa yang bernuansa mendukung keragaman, sementara 18 yang menjadi tantangan. Semua ini menunjukkan bahwa lebih banyak yang kita ingat adalah momen-momen positif. Kawan-kawan guru juga mendapatkan pelajaran penting dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain ingatan dari buku, kawan-kawan mengangkat narasi dari cerita/tutur. Misalnya bu Novi yang menceritakan pengalaman atau cerita neneknya terkait Bakorpakem.
Menurut Muhammad Mukhlisin fasilitator dalam kegiatan kali ini, “Pembelajaran sejarah kita fokus pada hafalan dan pengetahuan, kurang berpikir kritis dan membangun kesadaran. Kita perlu mengkritisi pelajaran sejarah yang kita pelajari bersama.” Menurutnya sejarah yang kita dapati perlu dikritisi, sejarah itu dikumpulkan, dikoleksi melalui momen-momen. Bisa jadi itu momen-momen kecil, yang jika ditelusuri merupakan momen besar sejarah bangsa.
Perjumpaan SGK hari ini ditutup dengan pesan Henny Supolo ketua Yayasan Cahaya Guru, agar guru-guru memahami betapa pentingnya peran masing-masing dalam sejarah bangsa. “Kita perlu mencatat. Apa yang kita alami di keseharian, bagaimana kita memperjuangkan keragaman, melihat kembali sejauh mana mengangkat keragaman sebagai bagian kekuatan, kedamaian bekerja sama tanpa saling curiga, membuat kita berharga di dunia ini.”, ungkap Henny Supolo.
Waktu tiga jam serasa tak cukup untuk memuaskan dahaga pengetahuan itu. Hal ini bukan tanpa alasan, bagaimanapun para guru adalah orang-orang yang berada di garda depan untuk mereplikasi pengetahuan sejarah kepada setiap generasi baru. Ada semacam kerinduan untuk bisa lebih paham tentang jati diri sebagai bangsa agar lebih bertanggung jawab dalam meneruskan setiap catatan sejarah. Semoga. Salam Keragaman [AK]

