Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Kemerdekaan Berpikir
Ruang Virtual, 4 Juni 2022, Sekolah Guru Kebinekaan kedua diselenggarakan dengan teman belajar Henny Supolo Sitepu, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru, mengangkat tema “Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Kemerdekaan Berpikir”.
Masih dalam suasana peringatan hari lahir pancasila, kegiatan dimulai dengan menyimak lagu nasional “Garuda Pancasila”. Hal ini untuk mengingatkan komitmen kebangsaan kawan-kawan guru, dalam proses kehidupan berbangsa.
Mengenal Suara Hati Guru
Sebelum masuk dalam materi utama, Rizal Lubis sebagai fasilitator (Alumni SGK 2016) terlebih dahulu mengajak para guru berefleksi dengan menanyakan, “Apa alasan kawan-kawan memilih menjadi guru?”.
Beragam jawaban diberikan oleh kawan-kawan guru, ada yang menyampaikan sebagai panggilan jiwa, pengabdian dalam menemani anak-anak bangsa, cita-cita sedari kecil, terinspirasi dari orang tua, ada pula kawan-kawan guru yang belum bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Ada kawan guru yang berkesempatan mengungkapkan pengalamannya, tentang menjadi guru sebagai panggilan pendidikan dan panggilan Tuhan, karena jalan nasib yang mengantarkannya guru, walau sudah berupaya mengambil jalan karir lain namun sekolah yang terbuka menerima.
Hal ini dimaknai dengan positif oleh kawan-kawan guru, yang mana dalam pengambilan peran sebagai guru, sebagai upaya untuk menemani anak-anak dalam proses membersamai pengembangan minat, bakat, dan membangun rasa bahagia melalui pemelajaran.
Membersamai Anak agar Selamat dan Bahagia
“Guru menggunakan lebih banyak pada apa yang dipercayainya, apa yang menjadi nilai yang dipegang, serta apa yang memengaruhi kehidupan yang selama ini diinginkan terjadi pada seorang guru berdasarkan pengalamannya”.
Ungkapan diatas merupakan kalimat pembuka dari Henny Supolo Sitepu, karena mendapatkan banyak catatan positif dari kawan-kawan guru, terhadap upaya guru dalam mendampingi anak dalam proses pemelajaran saat ini.
Proses membersamai anak yang dilakukan kawan-kawan guru, merupakan modal dasar serta penting untuk dapat menguatkan dan memahami tentang filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Satu diantara catatan positif yang tertangkap adalah, “saya ingin menjadi guru yang membuat anak-anak termotivasi berangkat sekolah”.
Menurut Henny Supolo, jawaban kawan guru menguatkan apa yang oleh Ki Hajar Dewantara sebagai naluri pendidik. Naluri pendidik berisi tentang, upaya pendidik memastikan anak-anak selamat dan bahagia. Karena hanya anak-anak yang selamat dan bahagialah yang dapat tumbuh dengan optimal, karena hanya anak-anak bahagia yang bisa belajar mengikuti proses pemelajaran dengan semangat.
“Satu diantara yang diajarkan Ki Hajar Dewantara untuk menggali kemampuan murid secara optimal, adalah dengan tiga pusat pendidikan, yaitu dalam keluarga, bukan hanya orang tua tetapi semua yang dianggap keluarga. Kemudian dalam perguruan, yang juga bukan hanya guru di sekolah formal, melainkan ada peran komunitas, sekolah minggu, guru agama, atau siapapun yang menjadi guru yang sifatnya digugu dan ditiru. Dan yang terakhir adalah alam pergerakan pemuda dan pemudi, atau bagian dari sekolah masyarakat”, ungkap Henny Supolo.
Secara umum tiga pusat pendidikan ini secara spesifik memengaruhi tumbuhkembang dan budi pekerti pada murid, oleh karena, ketiga pusat pendidikan ini perlu saling menyeimbangkan untuk dalam membersamai proses pendidikan dan tumbuhkembang setiap anak. [FI]

