21
May 2022
SEKOLAH GURU KEBINEKAAN 2022 | 1
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

RUANG PERJUMPAAN ITU BERNAMA SGK

 

Ruang Virtual, 21 Mei 2022. Yayasan Cahaya Guru (YCG) memulai Sekolah Guru Kebinekaan 2022 bertepatan dengan Hari Peringatan Reformasi dan Hari Dialog Perbedaan Budaya. 

 

SGK tahun ini diikuti oleh tiga puluh guru yang berasal dari Sumatra hingga Papua, dari ujung Sulawesi hingga perbatasan Nusa Tenggara. Koya abata, salamat ka'ayat, tabea, dumodupo, selamat jaga, sugeng enjing dan lain sebagainya, demikianlah mereka saling menyapa di Sabtu pagi itu. 

 

Mengenal Keragaman

Tema pertemuan perdana SGK 2022 yaitu Mengenal Keragaman. Keragaman yang diperkenalkan yaitu keragaman yang ada di setiap peserta. Ya, setiap kita merupakan keragaman itu sendiri. 

 

"Mari mengikuti SGK dengan hati ringan, pikiran terbuka, dan mari berbagi untuk saling menginspirasi," kata Fawwaz Ibrahim, koordinator SGK 2022.

 

Semua guru berbagi. Masing-masing memperkenalkan diri serta pengalaman yang berhubungan dengan keragaman. Ada guru yang mengajar di jenjang SD, SMP, maupun SMA/SMK. Sebagian diantaranya aktif di komunitas yang punya perhatian pada isu keragaman. 

 

Ada yang tumbuh besar dalam keluarga yang beragam suku maupun agama/kepercayaan. Ada yang mengenal keragaman melalui perjumpaan saat bersekolah. Ada juga yang tumbuh dalam lingkungan yang cenderung homogen namun ingin mengalami perjumpaan dengan yang beragam. 

 

Panggilan untuk merawat keragaman

Dari cerita guru-guru, kami menyadari bahwa sekolah dapat menjadi tanah yang subur untuk menyemai keragaman, juga dapat menjadi tanah berbatu yang penuh tantangan.

 

"Walaupun tampak adem ayem, intoleransi itu ada di sekolah," tutur seorang guru yang merasa upayanya memberi ruang pada keragaman di sekolah mendapat penolakan dari sesama guru.

 

Ada juga guru yang menyadari bahwa bias itu ada dan setiap kita memiliki kecenderungan untuk bergabung dengan yang sama. Butuh keberanian untuk keluar dari zona nyaman. 

 

Ragam konteks menyertai cerita guru-guru. Konteks konflik, perbedaan aliran, prasangka yang sukar ditepis karena trauma dalam relasi antar agama, Jawa dan luar Jawa, dan sebagainya. 

 

Tentu tidak semua membuat kening mengernyit. Ada juga yang membuat tawa mengembang dan harapan bersemi. Misalnya, upaya-upaya memperkenalkan keragaman lewat literasi, penggunaan media digital, aktivitas di sekolah, dialog, upaya perjumpaan, pendidikan interreligious, hingga merawat pertemanan. Semua menjalin dalam satu kata: harapan.

 

Sesi berbagi ini dipandu oleh Syarifah Widyati Agustin, guru SD sekaligus lulusan SGK angkatan pertama di tahun 2016.

 

Selamat Datang di SGK

Sekolah Guru Kebinekaan (SGK) ada karena YCG menyadari bahwa intoleransi ada di tengah masyarakat sementara ruang-ruang perjumpaan begitu terbatas. 

 

Ruang perjumpaan inilah yang coba kami buka dengan menghadirkan model pendidikan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan. Dengan demikian, guru-guru dapat mengambil peran merawat keragaman di negeri ini. 

 

Untuk tiga puluh guru yang bergabung di SGK 2022, keragaman itu kita. Selamat datang dan mari belajar bersama menjadi rujukan keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. [GS]

Back
2023© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.