NGRASA DAN NGLAKONI
Catatan dari Diskusi dan Refleksi Pendidikan Rasa | Rasa Pendidikan (04)
Ki Hadjar Dewantara memperkenalkan beberapa cara mendidik yaitu memberi contoh, pembiasaan, pengajaran, perintah, laku, dan pengalaman lahir batin. Hal ini disampaikan oleh Henny Supolo Sitepu dari Yayasan Cahaya Guru dalam Diskusi dan Refleksi Pendidikan Rasa | Rasa Pendidikan yang diselenggarakan Yayasan Cahaya Guru Kamis lalu (17/3).
"Saya ingin mengajak kita melihat dua yang terakhir, yang mungkin jarang kita lakukan," ajak Henny setelah berbicara tentang ilmu dan kepandaian sebagai alat untuk kematangan jiwa dan keluhuran budi.
Laku menurut Henny merupakan refleksi atas apa yang seorang pendidik lakukan. Refleksi tentang bagaimana guru mempraktikkan semua yang ia pikirkan, semua yang ia kehendaki, semua mimpi dalam benaknya, serta filosofi yang menjawab mengapanya.
Pengalaman lahir batin dalam bahasa seorang Ki Hadjar Dewantara disebut nglakoni dan ngrasa. Beberapa kata memang memiliki rasa dan makna yang lebih mendalam ketika menggunakan bahasa daerah.
"Nglakoni itu bukan sekadar melakukan atau melakonkan namun ada pengalaman lahir batin, ada ngrasa. Di situlah keguruan kita berada, di situlah keorangtuaan kita berada dan dua hal ini membutuhkan latihan hening agar apa yang kita lakukan menjadi jernih," kata Henny.
Henny juga mengajak setiap guru untuk meminta teman-teman di sekitarnya untuk menjadi cermin yang jernih bagi setiap mereka.
"Mintalah sesama rekan guru, juga anak-anak kita, untuk menjadi cermin yang jernih. Di sana ada kesetaraan dan juga ada kepercayaan yang memberi keyakinan kepada anak untuk belajar memimpin."
Ia mengingatkan bahwa naluri seorang pendidik adalah selamat dan bahagia anak. Pendidik menyokong kodrat alamnya anak agar dapat mengembangkan hidup lahir batinnya. Sesungguhnya pengetahuan dan kepandaian hanyalah alat. Buah pendidikan pada akhirnya yaitu matangnya jiwa yang terefleksi dalam hidup tertib, suci, dan bermanfaat bagi orang lain.
Mari mendidik dengan laku, dengan nglakoni dan ngrasa. Pendidikan sejatinya perlu menjawab siapa kita dan mengapa kita ada di semesta ini. [GS]
Artikel berikutnya: Rasa dan Empati Sosial

