12
Mar 2022
Seri Perempuan Pendidik: DEWI SARTIKA
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

ENDEN UWI: DARI GUNDAH JADI TINDAKAN

Enden Uwi adalah sapaan Raden Ayu Dewi Sartika (1884-1947) kecil. Anak perempuan yang lincah, cerdas, dan banyak tanya. Orang tuanya tidak tabu membiarkan anak perempuan belajar.
Enden Uwi baru berusia sepuluh tahun saat ayah dan ibunya diasingkan ke Ternate. Ia pun harus menetap di kediaman pamannya, seorang patih di Cicalengka. Enden Uwi senang belajar dan berbagi serta menaruh perhatian pada warga bumiputera.
Di usia sepuluh tahun ini, Enden Uwi mengagetkan Cicalengka karena 'menyulap' anak-anak abdi di kepatihan menjadi bisa membaca, menulis, dan mengucapkan beberapa kata berbahasa Belanda.
Bertumbuh dewasa, selalu ada tanya yang mengusik hati Enden Uwi atau Raden Dewi melihat realitas bangsanya:
"Koemaha ari bangsa abdi-abdi noe leutik?"
"Koemaha atoeh prakna pikeun ngamadjoekoen abdi-abdi teh?"
"Koemaha atoeh soepaja bangsa oerang tambah madjoe?"
Raden Dewi percaya bahwa masyarakat memerlukan pendidikan, terutama masyarakat perempuan. Kegundahan melahirkan gagasan dan gagasan melahirkan tindakan. Pada 16 Januari 1904, ia mendirikan Sakola Istri (Sekolah Perempuan) yang kemudian berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan).
Raden Dewi tak sepenuhnya berpikir bahwa perempuan tak berdaya. Justru, pengalaman-pengalaman hidup perempuan merupakan daya yang perlu dikenali, dikelola, dan dikembangkan.
Dalam Sakola Kautamaan Istri, ia mengadopsi filosofi Sunda yaitu cageur (sehat), bageur (baik), pinter (pintar), dan wanter (percaya diri). Sang penolak praktik poligami ini merupakan perempuan pendidik yang memberikan seluruh hidupnya untuk pendidikan bangsa ini. [GS]
Back
2023© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.