17
Mar 2022
PENDIDIKAN RASA | RASA PENDIDIKAN
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

PENDIDIKAN RASA | RASA PENDIDIKAN

“Raso dibaok naiek, pareso dibaok turun” (falsafah Minangkabau)

Pertimbangan rasa selalu mendapat tempat penting dalam masyarakat di Nusantara. Satu di antaranya tampak dalam falsafah orang Minangkabau yaitu raso dibaok naiek, pareso dibaok turun. Terjemahan bebasnya kurang lebih berarti rasa dibawa naik, periksa dibawa turun

Maksud 'raso' dalam barih di atas yaitu secara alami orang Minangkabau menanggapi diri dan lingkungannya menggunakan hati dan naluri, lalu masuk ke pikiran atau akal. Maksud 'pareso' bermakna pikiran atau akal bekerja dan mengubah pertimbangan menjadi sesuatu untuk alam semesta. Dalam pemikiran orang Minangkabau, dimensi akal-budi merupakan titik berangkat dalam memahami rahasia alam lewat instrumen 'raso-pareso' atau 'rasa-periksa'. Ia pertama-tama berefleksi, mengoreksi diri, lalu menggerakkan perubahan.

Dalam sejarah pendidikan di tanah air, para perintis pendidikan pun menyertakan unsur rasa. Willem Iskander atau Sutan Sati Nasution (1840-1876) menggunakan baris-baris sajak Si Rumbuk-rumbuk Si Bulus-bulus untuk mendorong masyarakat bumiputera untuk belajar. Ia juga belajar poda da lima atau petuah yang lima yang merupakan kearifan Mandailing untuk penumbuhan budi pekerti. Engku Muhammad Syafei (1893-1969) menyatakan selain memerdekakan individu, pendidikan dimaksudkan untuk mempersatukan otak-hati-tangan atau tiga tungku sajarangan. Di mana hati untuk memaknai keragaman. Ki Hadjar Dewantara (1889-1969) menyebutkan kesatuan pendidikan pikiran, pendidikan rasa, dan pendidikan kemauan untuk tujuan kemanusiaan. Ia memberi ruang yang luas pada pendekatan seni dalam pendidikan. 

Perintis pendidikan di tanah air bukan hanya laki-laki, banyak juga tokoh perempuan. R.A. Kartini (1879-1904) selain memiliki kecakapan observasi dan menulis tentang situasi di masyarakat, sisi estetikanya makin nampak saat menciptakan motif ukir dan mempromosikan ukiran Jepara karya penduduk. Kekaguman pada seni ukir Jepara ia tuangkan lewat prosa Pojok yang Terlupakan. Raden Dewi Sartika (1884-1947) juga mengangkat kearifan lokal masyarakat Sunda yaitu cageur, bageur, pinter untuk memajukan masyarakat saat itu, khususnya perempuan. Kecerdasan intelektual dan emosional Ruhana Kuddus (1884-1972) di Koto Gadang, Minangkabau dan Maria Walanda Maramis (1872-1924) di Minahasa menggerakkan inisiatif pembaruan bagi perempuan di wilayah masing-masing. Ada juga Saridjah Niung atau ibu Sud (1908-1993), seorang guru musik yang menggubah ratusan lagu-lagu anak berbahasa Indonesia untuk mengembalikan kegembiraan anak-anak bangsa. Semua inisiatif ini menyertakan pertimbangan rasa. Tentu saja, tokoh pendidikan yang tersebut di atas hanyalah sebagian kecil dari banyak tokoh yang menyatukan unsur cipta, rasa, dan karsa dalam pendidikan. 

Pada masa ini, sejak pandemi COVID terjadi di 2020 hingga sekarang, situasi pendidikan sangat dinamis. Guru, tenaga pendidikan, murid, juga masyarakat terus beradaptasi dengan perubahan dan banyak kebiasaan baru. Kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna serta menguasai teknologi menjadi semacam keharusan. Guru-guru pun sibuk mengasah pengetahuan dan keterampilan. Lalu, bagaimana dengan rasa? [GS]

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.