21
Oct 2021
FGD GURU PSMA 2021: KEBINEKAAN DAN KETAHANAN BERADAPTASI SELAMA PANDEMI
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Lika-Liku Guru Beradaptasi Selama Pandemi

Jakarta - Kamis (21/10/21) Yayasan Cahaya Guru menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Guru untuk menemukenali tantangan dan peluang guru dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ), serta pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) bagi guru Maluku dan Yogyakarta. Lebih jauh dari itu kami ingin mendengar pengalaman para guru tentang kekuatan diri dan praktik baik dalam pengembangan wawasan kebinekaan di lingkungan pendidikan.

Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan Direktorat Sekolah Menengah Atas, Kemendikbud Ristekdikti. Kegiatan kami selenggarakan dalam jaringan (daring), sebagai upaya menghentikan penyebaran virus corona yang masih terjadi hingga saat ini. Pada tahun ini Yayasan Cahaya Guru mendapatkan kesempatan bertemu dengan para guru dari dua provinsi, yaitu Provinsi Maluku dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Adapun beberapa sekolah yang menjadi teman belajar kali itu ialah, SMAN 1 Maluku dan SMAN 1 Ambon mewakili Provinsi Maluku, serta SMAN 1 Bantul, SMAN 1 Sleman, SMAN Wonosari, dan Sanggar Anak Alam (SALAM) mewakili Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan berlangsung selama 150 menit, dalam kegiatan ini semua guru yang hadir adalah teman belajar untuk saling berbagi dan menginspirasi.

Mengenal Keragaman Melalui pembelajaran Masa Pandemi

Sebelum melakukan kegiatan diskusi, para guru terlebih dahulu diajak mengenal tentang keragaman emosi, dengan diperlihatkan roda emosi plutchik yang dikembangkan oleh kawan-kawan Jabar Masagi. Dalam kegiatan ini, kami ingin melihat respon para guru terhadap pembelajaran masa pandemi.

Respon yang disampaikan oleh para guru sungguh menarik, misalnya dalam proses pembelajaran jarak jauh beberapa kata kunci yang muncul antara lain bosan, gembira, senang, ketenangan, canggung, sedih, sinyal, jaringan, tetap melakukannya dengan suka cita, menambah ilmu, dst.

Selanjutnya saat disampaikan apa yang dirasakan oleh para guru tentang pembelajaran tatap muka terbatas, kata kunci yang muncul antara lain senang, seru, gembira, rindu, lega, waktu yang singkat, senang, tambah, lega, dan bahagia. Kata kunci positif banyak muncul dalam kategori pembelajaran tatap muka terbatas, ternyata PTMT menjadi satu di antara angin segar para guru dalam proses belajar mengajar masa pandemi, namun begitu kami pun menemukan tantangan. 

Sekolah kami sudah melakukan PTMT, kami sebagai guru harus melakukan adaptasi kembali dalam proses pembelajaran, kami merasakan ada kehilangan kedekatan emosi dengan murid, dan PTMT membangun kembali kedekatan emosi dengan murid, walaupun secara bergantian. Kami sebagai guru perlu waktu lebih untuk berkomunikasi dengan para murid”, ungkap Ifan Purnama Rafani guru dari SMAN 1 Maluku Tengah.

Membangun kedekatan antara murid dan guru, menjadi satu di antara fokus kawan-kawan guru dalam proses pembelajaran tatap muka terbatas. Para guru merasa ada gap yang cukup, saat PTMT dilakukan, bahkan dalam pantauan guru ada beberapa murid merasa malu-malu untuk berbaur sesama murid, karena sudah lama tidak bertemu. Oleh karenanya, ada beberapa guru yang membangun kedekatan emosi dengan kegiatan-kegiatan ringan yang membangun komunikasi antara murid dengan murid, juga antara guru dan murid.

Namun dibalik tantangan selalu ada peluang yang muncul, hal tersebut disampaikan oleh Amalia Ulinnuha dari SMAN 2 Wonosari, “Pada masa pandemi memang kondisi mental begitu terasa berat, namun berjalannya waktu kami harus beradaptasi dan lebih peka terhadap tantangan yang ada, serta beban murid yang diberikan setiap guru. Pengelolaan waktu juga menjadi satu diantara yang perlu dalam pembelajaran, dan dalam surat edaran kemdikbud membantu kami dalam proses pembelajaran yang bermakna serta aplikatif. Materi tidak banyak dipaksakan, karena terasa kebosanan anak di rumah luar biasa.”

Pada masa awal pandemi kemendikbud ristekdikti memberikan surat edaran terkait pembelajaran masa pandemi yang bermakna serta aplikatif, ternyata hal tersebut dapat ditangkap oleh para guru peserta diskusi sehingga dapat memberikan pembelajaran yang berpusat pada murid, serta dekat dengan tempat tumbuh dan hidupnya para murid.

Komar satu diantara fasilitator Yayasan Cahaya Guru menyampaikan, perlu ada yang disadari oleh kawan-kawan guru bahwa momentum pandemi memberikan tiga pengalaman sekaligus. Pertama, pembelajaran reguler yang terhenti sejak Maret 2020. Kedua, beralih ke pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran dari rumah yang sudah dilakukan satu setengah tahun lebih. Ketiga, para guru menyongsong momentum baru pembelajaran tatap muka terbatas sebagai peralihan atau adaptasi ke pembelajaran reguler kembali.

Setiap momentum pasti punya tantangan dan peluang, selanjutnya bagaimana kita menyikapi momentum yang dihadapi, syukur-syukur kita bisa menyikapi dengan positif dalam rangka memperkaya pengalaman kita dalam pembelajaran. Pengalaman berharga itu kalau hanya diucapkan dan dijalani oleh diri sendiri itu kurang berharga, seandainya dituliskan pengalaman berharga selama PJJ dan PTMT, bisa jadi ini menjadi inspirasi rekan guru lain di pelbagai daerah”, ungkap Komar mendorong rekan-rekan guru menuliskan pengalaman pembelajaran semasa pandemi.

Pembelajaran Masa Pandemi dan Tri Sentra Pendidikan

Dalam proses diskusi, Oktavianus Jeffry Budiarto menerangkan bahwa masa pandemi menjadi daya ungkit kerjasama antara sekolah, orang tua, dan lingkungan masyarakat. Apa yang beliau sampaikan merupakan perwujudan nyata tiga alam yang memengaruhi tumbuh kembang murid yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Menurut Ki Hajar Dewantara tiga alam tersebut ialah,  alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda-pemudi (masyarakat). Ketiga alam ini perlu saling menyeimbangkan diri serta memiliki fokus terhadap pendidikan budi pekerti untuk menghidupkan perasaan kesosialan anak. Setiap dalam memiliki lingkup tersendiri, namun ketiga bermuara terhadap budi pekerti yang dipayungi nilai kemanusiaan.

Guru memiliki peran dalam menumbuhkan budi pekerti murid, budi pekerti juga satu diantara yang ditekankan oleh Ki Hajar Dewantara dalam proses pendidikan. Menurut Muhammad Mukhlisin hal sederhana yang dapat dilakukan oleh para guru ialah, mendorong murid untuk mengetahui potensi diri dan potensi lingkungan, dan menggunakan keduanya untuk perbaikan dan kebaikan bersama. (IR/MM)

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.