27
May 2020
SALAM : Semangat pelajar Kehidupan
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Narasi 5

SALAM : Semangat Pelajar Kehidupan

 

Ibu Sri Wahyaningsih menatap anak-anak usia kelas V SD yang masih mengeja saat diminta membaca. Setelah beberapa kali menyemangati, ia meminta mereka bercerita. Mereka antusias. “Itu jadi pintu masuk saya. Anak-anak saya minta mengamati apa yang mereka temui di perjalanan, sorenya didiskusikan, “ tutur Bu Wahya, panggilannya. Hasilnya membuat takjub. Anak-anak itu sangat peka dan kritis. Ada yang bercerita, “ Tadi aku lewat pasar, ternyata kami punya pasar. Tapi yang jualan bukan orang sini, kebanyakan orang kota. Yang dijual juga bukan produk kami.” Anak lain berkisah, “ Tadi lewat ladang, banyak tanaman seperti pisang, singkong, dan ubi yang busuk, nggak dipanen karena harga jual sangat murah.” Ini menginspirasi Bu Wahya mendirikan sekolah yang khas, yang mengajak murid menjadi pelajar kehidupan.

 

Sandal Jepit di Antara Gamelan, Gitar, dan Batik

 

Tak jauh dari jalan di Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, berdiri sebuah bangunan artistik di tengah sawah, bertuliskan SALAM : Sekolah Keluarga. Tidak seperti sekolah umum, SALAM lebih menyerupai tempat bermain. Mereka bersekolah di tengah sawah, dengan bangunan sederhana. Para siswa duduk lesehan di atas karpet. Tidak ada yang berseragam bahkan sebagian besar bersandal jepit.

 

Mengapa tidak berseragam? Itu langkah awal menghargai keragaman, mereka dapat melihat bahwa perbedaan itu indah. Situasi yang sangat bertolak belakang dengan sekolah formal. Walau bersandal jepit, mereka mempunyai penghargaan tinggi terhadap nilai-nilai kerohanian, kesopanan, cinta alam, pangan, kesehatan tubuh, pendidikan, seni dan budaya. Penerapan nilai-nilai menumbuhkan moral yang baik ; mereka sopan, kritis, dan mudah bergaul tanpa membeda-bedakan.

 

Terlihat berapa anak sedang bermain gamelan dan rebana. Di SALAM juga tersedia alat musik tradisional seperti gamelan, rebana, dan alat musik modern seperti gitar. Penyuka musik diberi kesempatan mengembangkan minat dan bakatnya. Mereka belajar musik otodidak tanpa bantuan guru. Mereka belajar sendiri memainkan berulang kali sampai menemukan nada yang pas. Di sini mudah ditemukan anak yang suka bermain gitar dan bernyanyi.

 

Ada pula yang tengah menggambar. Mereka dibebaskan menggambar yang mereka sukai, seperti bunga, pohon, dan boneka barbie. Mereka juga membatik, tentu dengan cara yang khas, sesuai tingkatan kelas. Kelas 1 membatik menggunakan cap, sedangkan kelas 6 membatik dengan canting. Kebebasan melakukan kegiatan yang disukai sepanjang itu positif, melahirkan anak-anak yang mencintai kebudayaan Indonesia.

 

SALAM, Bukan Sekolah Mahal

 

Pada tahun 1986, Bu Wahya pindah ke Lawen, Banjarnegara, Kampung halaman suaminya. Selama tinggal di Lawen, ia melihat banyak anak putus sekolah. Kondisi memprihatinkan itu terjadi karena para orang tua di Lawen menganggap sekolah sebagai ‘barang’ mahal. “Mereka menilai pendidikan tidak memberi perubahan cepat, karena saat tamat sekolah pun, anak-anak masih harus bersaing mendapat pekerjaan. Sementara dengan membantu orang tua di sawah atau di ladang, anak-anak sudah dianggap bisa bekerja, tidak perlu sulit bersaing lagi. Selain itu menurut mereka, sekolah justru menjauhkan anak-anak dari realita. Jika orang tuanya petani, si anak enggan turun ke sawah karena takut mengotori seragam sekolah, “kisah Bu Wahya.

 

Masalah di Lawen tak sebatas anak putus sekolah, banyak juga yang berhenti sekolah karena pernikahan dini. Ini memicu dampak lain seperti angka kematian ibu yang tinggi akibat kehamilan di usia yang terlalu muda.

 

Prihatin, Bu Wahya merasa perlu memberi pemahaman pada orang tua tentang konsep pendidikan atau pelajaran, “Belajar itu tidak hanya di sekolah saja. Di ladang pun sebenarnya mereka belajar juga.” Ia mencoba membuat perkumpulan remaja yang digelar sepulang sekolah. Mereka dilatih banyak hal, belajar dari alam. Lahirlah Sanggar Anak Alam (SALAM). Tahun 1998, Bu Wahya resmi mendirikan Sanggar Anak Alam pertama di Lawen, Banjarnegara.

 

SALAM di Kampung Para Seniman

 

Dari Lawen, tahun 1996 Bu Wahya pindah ke Nitiprayan, kampung para seniman di Yogyakarta. Ia melihat, remaja putus sekolah di situ juga cukup banyak. Pada tahun 2000 Bu Wahya memulai aktivitas pendampingan remaja dengan menyediakan ruang belajar jurnalistik, anak-anak belajar berdiskusi, mengasah sisi kritis. Dalam kelas lingkungan, mereka belajar mendaur ulang sampah. Untuk seni budaya, dia menghidupkan lagi pesta panen. Anak-anak putus sekolah maupun yang masih bersekolah, antusias mengikuti.

 

Sesekali anak-anak membawa PR dari sekolah. Bu Wahya pun mengamati, banyak pelajaran sekolah yang kurang relevan dengan kebutuhan dan kehidupan, “ Bagaimana bersikap, bagaimana menemukan solusi kehidupan itu justru nggak muncul.” Terbesit ide membentuk sekolah dengan konsep membebaskan anak mempelajari hal-hal yang mereka suka, diawali dari kelompok bermain di tahun 2004.

 

SALAM berdiri untuk menyediakan pendidikan dasar yang merupakan pondasi penting peletak sistem berpikir dan sikap sejak kanak-kanak. Salam berupaya menciptakan ruang bagi anak-anak dan komunitas untuk leluasa menguji coba, menjelajah dan mengekspresikan berbagai temuan pengetahuan dengan memanfaatkan lingkungan sebagai media belajar.

 

Metode pendidikan SALAM mencakup empat inti, yakni pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya. Dalam penyelenggaraan proses belajar. SALAM memulai dari kekuatan kemandirian, terbuka untuk bantuan luar namun tidak mengikat, tidak merusak prinsip kemandirian. Kemandirian itu meliputi cara pandang, metode belajar mengajar, media yang digunakan, sumber-sumber logistik, pendanaan, adat istiadat, dan kearifan yang bersumber dari komunitas setempat.

 

Pendidikan Untuk Semua

 

Untuk menjadi murid-murid SALAM tidaklah rumit dan berbelit. Utamanya orang tua murid mengikuti dialog dengan pengelola sebelum menyepakati berbagai persyaratan. Semakin lama banyak orang tua mendaftarkan anaknya bersekolah di sini. Kami pun menantang para orang tua untuk membentuk komunitas baru dengan semangat sama. Meski hanya 8 orang tua yang berani menerima tantangan, SALAM tetap mengadakan pelatihan fasilitator, memberi gambaran visi misi serta komitmennya dalam dunia pendidikan.

 

Lokakarya “Merancang Sekolah Merdeka” menginspirasi orang tua SALAM membentuk komunitas baru bernama Sekar di wilayah Sewon. Masyarakat mendorong kami membangun TK, SD, SMP, dan SMA, yang menerapkan Tri Sentra Pendidikan Ki Hajar Dewantara, di mana pusat pendidikan adalah lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. “Masuk SALAM, yang diseleksi adalah orang tua, bukan anaknya. Karena mereka lah pendidik utama,” papar Bu Wahya

 

SALAM pun menyelenggarakan Taman Belajar untuk anak-anak :

  1. Taman Bermain usia 2-4 tahun

  2. Taman Anak (TA) usia 4-6 tahun

  3. Sekolah Dasar (usia 6 tahun ke atas)

  4. Sekolah Menengah Pertama

  5. Sekolah Menengah Atas

Bisa dibilang yang bersekolah di sini tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang tua dan guru / fasilitator. Semua menjadi peserta didik proses belajar. Pendidikan selayaknya untuk semua, sepatutnya dimulai dari anak-anak. Dengan mencipta kesempatan bagi anak, sesungguhnya sedang membangun proses mendewasa, bertanggung jawab pada diri, keluarga, lingkungan sekitar, dan yang terpenting terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

Penelitian Minat dan Bakat Diri

 

Berbeda dengan sekolah alam umumnya, konsep SALAM adalah belajar keseharian melalui penelitian nyata. SALAM mengambil kompetensi dasar dari kurikulum. “Selebihnya perspektif pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya,” urai Bu Wahya. Penelitian murid kelas I-III dibimbing fasilitator untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Di kelas IV hingga SMA. setiap anak mulai meneliti minat, bakat dan ketertarikan masing-masing. Ada yang meneliti makanan, tanaman, obat herbal, makeup, menari, musik, sesuai minat dan bakat setiap anak. Satu kelas dibatasi 15 murid dengan tiga fasilitator. Fasilitator membimbing anak-anak menyusun pertanyaan dasar, mendapatkan data, menganalisa, dan menyimpulkan. Setelah itu, tiap anak presentasi di depan teman-temannya, orang tua, dan fasilitator. Hasilnya digunakan untuk mencapai kompetensi dasar.

 

Makin tinggi jenjang, penelitian makin mengerucut. Contohnya, mau jadi seniman, seniman apa? Kerajinan, misalnya. Lebih spesifik lagi, kerajinan dari bahan daur ulang. “ Penelitian tentang bahan-bahan bekas yang bisa didaur ulang, pewarnaannya, pola pemasaran seperti apa.” Pada tingkat SMA, tiap anak sudah berkarya. Ada yang punya produk tas sablon dari pewarna alami. Ada yang membuat kerajinan dari kain perca. Ada pula yang menjadi make up artist.

 

Ni Made Vena Indira, kelas X SMA, menjadi murid SALAM sejak kelas III SD. Sebelum didaftarkan orang tuanya, dia sempat berhenti sekolah di kelas I dan II, “Gak cocok soalnya,” ucap Vena, 17 tahun. Ia mengambil keterampilan fotografi, bahasa korea, dan sekarang meneliti tentang makeup. “Saya ingin menjadi makeup artist,” ucapnya, itu menunjukkan, “Bagaimana anak-anak menemukan pola belajar sendiri. Memerdekakan anak belajar,” tambah Bu Wahya. Saat ini jumlah murid SALAM ada 180 anak dengan 48 fasilitator.

 

Belajar Bisa Kapan Saja di Mana Saja

 

Sanggar Anak Alam Nitiprayan tidak memakai kurikulum nasional. Bagi mereka, kurikulum nasional tidak selalu relevan. Pangan dan kesehatan menjadi pendekatan awal proses belajar karena keduanya mereka hadapi langsung setiap hari, mereka sangat bangga mengonsumsi hasil panen dan masakan sendiri. Pengenalan dunia pertanian sebagai dasar kehidupan, melalui kegiatan menyiapkan tanah, menanam dan mengolah sendiri bahan-bahan alami yang banyak tersedia di lingkungan, memberi pelajaran bahwa di bumi tercinta ini tanaman tumbuh subur menghasilkan pangan yang bisa mereka olah sendiri. Sawah dan kebun milik sendiri, serta toko untuk menjual hasil lahan dan karya, menjadi sarana sekaligus pembiayaan kegiatan belajar. Itu menerbitkan kebiasaan baik ; selalu berdoa sebelum makan, tidak jajan sembarangan, selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

 

Mereka menghargai nilai-nilai pendidikan, terlihat dari semangat mereka belajar. Ada yang sibuk membaca buku, menggambar, berhitung dan bermain musik. Mereka tidak segan bertanya pada fasilitator. Contohnya ketika anak-anak SD sedang memisahkan sampah organik dan non-organik, ada yang bertanya perbedaannya. Tidak semua belajar dalam ruangan, ada yang membuat mainan dari tanah di luar, ada yang membaca buku di perpustakaan. Para fasilitator memberi keleluasaan belajar dimanapun. Fasilitator meyakini apa pun di sekitar mereka adalah pelajaran yang dapat diambil nilai baiknya. Semua tempat bisa dijadikan sekolah, membuat anak-anak selalu kritis bertanya, aktif leluasa melakukan hal-hal yang mereka sukai.

 

Khusus untuk kegiatan seperti workshop, siswa digabung, biasanya setiap usai sholat Jumat, membahas peristiwa yang mereka alami, memetik pelajaran dan hikmah. Contohnya, saat bermain sepeda, seorang anak mengalami patah tulang. Mereka pun dibekali pelatihan naik sepeda yang benar, berhati-hati, tidak ngebut.

 

Siswa kelas 1 - 6 sering digabung. Menurut fasilitator, belajar itu bisa kapan saja, di mana saja. Digabung pun tidak masalah. Kelas hanya satu sarana berkumpul, tapi bukan sesuatu yang pokok. Contohnya bagi siswa SD, mereka merawat kebun dan mengatur kelas, rutin dilakukan setiap pagi dengan berkelompok dan bergilir. Kegiatan itu mereka tulis atau gambar dalam buku catatan masing-masing. Setiap anak diberi kesempatan menerangkan apa yang telah mereka temukan atau lakukan. Selain meneliti masih ada banyak kegiatan bersama, yakni : Pasar Senin Legi, Pasar Ekspresi, Pementasan dan pameran, home visit, kepanduan, mini trip, dan live in.

 

Pasar Senin Legi yang Mengasyikkan

 

Dalam proses belajar Pancasila, SALAM tidak menanamkan melalui mata pelajaran, tetapi menerapkannya dalam sehari-hari dan pada kegiatan yang sengaja dirancang, salah satunya adalah Pasar Senin Legi.

 

Pasaran merupakan kegiatan yang sangat disukai hampir semua anak. Pasaran adalah permainan yang hakikatnya mirip orang dewasa bekerja. Di dalam permainan itu, anak-anak benar-benar serius, bahkan membuat aturan-aturan untuk menjaga kelancaran. Mengapa Senin Legi? Kegiatan sekolah di Salam berjalan 5 hari per pekan, Senin sampai Jumat. Legi adalah hari pasaran Jawa. Ada lima hari pasaran Jawa, Pahing, Pon, Wage, Kliwon dan Legi. Zaman dahulu, pasar tidak diadakan setiap hari. Anak-anak diajak belajar sejarah leluhur, orang tua pun dapat menyiapkan diri selama dua hari setelah sekolah libur hari Sabtu.

 

Pasar dibuat semirip mungkin dengan pasar tradisional, ada lurah pasar, bank, petugas kebersihan, dan petugas keamanan. Ada uang SALAM yang diterbitkan dan hanya berlaku di sini sebagai alat transaksi kegiatan pasaran. Ada elemen-elemen pasar yakni penjual, pembeli, dan petugas. Semua siswa berpartisipasi, mulai dari kelas Kelompok Bermain hingga SMA.

 

Pasar Senin Legi mencipta dinamika proses belajar. Dari mulai proses persiapan, saat siswa memilih akan berperan sebagai apa, belajar memutuskan, menimbang segala konsekuensi. Misalnya kalau memilih jadi pembeli, apakah tabungan cukup? Jika uang menipis atau habis, apa yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang? Mungkin harus bekerja, sebagai petugas bank, petugas keamanan, atau kebersihan? Atau mungkin menjadi penjual? Itu artinya harus memikirkan barang jualan apa yang sesuai tema, tidak melanggar kesepakatan (makanan dan minuman harus sehat) yang kira-kira mudah disiapkan dan laku.

 

Proses pengambilan keputusan ini tentu saja tidak melulu berkaitan dengan uang, ada berbagai hal lain juga. Unik ketika sekelompok anak memilih menjadi petugas keamanan dengan alasan bisa “mengatur” kakak kelas yang menyebalkan. Jauh dari uang, terlihat bagaimana peran ini dapat mewadahi kebutuhan ekspresi sosial dan emosi.

 

Proses belajar selanjutnya terjadi saat hari-H, ketika semua menjalankan peran. Petugas bank belajar cekatan, teliti dan hati-hat mengingat banyaknya orang yang dilayani. Petugas keamanan belajar bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban, percaya diri menjalankan tugas meski harus mengatur kakak kelas atau orang dewasa.

 

Petugas kebersihan harus memastikan semua menjaga kebersihan lingkungan, berani menegur, memberi konsekuensi jika ada yang melanggar sembari berkeliling dari satu lapak ke lapak lain menagih uang kebersihan. Penjual berusaha menawarkan dagangan, cekatan melayani pembeli, cermat menghitung jumlah pembelian atau kembalian, menimbang keputusan ketika dagangan belum laku, dan seterusnya. Pembeli pun belajar ketika menentukan berapa uang yang dia ambil, memilih yang akan dibelanjakan, menawar harga dagangan tanpa memaksa, memilih menikmati sendiri atau membagi yang sudah dibeli, sampai memutuskan untuk menghabiskan atau menyisakan uang yang sudah diambil dari bank.

 

Banyak kisah menarik. Saat ada anak yang awalnya berperan sebagai penjual, memilih menyerah karena dagangannya tidak laku, tapi dengan dukungan fasilitator akhirnya mendapati dagangannya bisa laku juga. Fasilitator akhirnya mendapati dagangannya bisa laku juga. Fasilitator menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk melanjutkan permainan sampai akhir.

 

Ada juga penjual yang dagangannya laris manis, sementara dagangan teman di sebelahnya sama sekali belum laku. Ia berinisiatif memberi uang pada temannya, “Nih buat kamu, biar bisa jajan, jualanmu kan belum ada yang laku.”

 

Ada pula inisiatif membantu kawan, “Aku bantu jualin ya, tapi nanti aku digaji….”. Anak itu rupanya cukup berjiwa marketing. Kisah-kisah lucu lain dari petugas (bank, keamanan, atau kebersihan) yang malas-malasan bertugas dengan alasan “capek”, “panas”, “yang ditagih nggak ada”, “susah nagihnya”, dan sebagainya.

 

Bagi siswa kelas satu SD, mereka harus menuliskan jenis makanan apa yang dilihat, berkaitan dengan pelajaran bahasa Indonesia. Mereka juga menghitung untuk pelajaran matematika. Bagi kelas yang lebih besar, mereka harus bisa menerangkan apa saja yang telah dijual, berapa harga, jumlah dan keuntungannya. Mereka diminta mengira-ngira keuntungan atau kerugian yang didapat.

 

Penjual yang tidak habis menjual dagangannya ketika pasar hampir selesai, harus cepat memikirkan cara. Banyak trik dilakukan saat pasar hampir tutup, seperti mengasong dan memberi diskon. Biasanya setelah pasar usai, evaluasi dilakukan seluruh elemen pasar. Ada anak yang dagangannya tidak habis, bercerita “Tadi ada yang menjual barang dagangan sama denganku, aku nggak tau kenapa punyaku tidak laku padahal sama harganya?” setelah dievaluasi, ternyata dagangannya kurang menarik perhatian karena bentuk dan penempatannya tidak sebagus saingannya. Pengalaman-pengalaman ini membuat anak berstrategi, apa yang perlu diperhatikan dalam menampilkan kualitas barang dagangan di acara berikutnya.

 

Pasar Senin Legi juga mengatur agar bahan makanan, antara lain tidak boleh 100% berbahan terigu (karena bukan bahan pangan lokal) dan tidak terbungkus plastik. Pemakaian bahan plastik akan didenda. Kalau penjual menggunakan wadah, pembeli harus mencuci sendiri wadah yang dipakainya. Makanan yang dijual tidak mengandung vetsin, pewarna, dan zat kimia sintesis berbahaya lainnya. Aturan-aturan ini mengajarkan anak-anak selektif memilih makanan yang ramah kesehatan dan lingkungan.

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.