21
Feb 2020
PAGAR HATI DAN CINTA BATIK DI SMPN 04 PANDAK, BANTUL
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 
Pagar Hati dan Cinta Batik di SMPN 04 Pandak, Bantul
 
Siswa-siswi di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 04 Pandak, mampu membuat batik untuk seragam. Kerajinan batik merupakan salah satu program unggulan di bidang life skill (kecakapan hidup) yang diajarkan kepada siswa di sekolah yang berdiri megah di seberang hamparan sawah yang lumayan luas.
 
Tulisan “SMP Terbuka 4 Pandak” terpampang jelas saat kita memasuki gerbangnya. Tampak siswa-siswi, dengan bersepeda, berjalan kaki, atau diantar orang tua, memasuki gerbang sekolah. Para guru yang telah datang hanya masuk ruangan guru sebentar, lalu segera keluar berjajar bersama di dekat gerbang, menyambut para siswa. Mereka dengan tulus khidmat menyalami seraya mencium tangan para pendidik jika ada atribut siswa yang tak lengkap, mereka ditegur di situ.
 
Mencintai Batik
Puluhan trophy dan piala penghargaan tampil mencolok di bagian kanan gedung sekolah. Tembok dan tiang-tiang sekolah terlihat asri berhiaskan aneka motif batik. Corak batiknya, tak hanya klasik, tapi juga kontemporer. Pada dinding bagian kiri lorong sekolah dipajang dua kain batik merah bercorak klasik, dan kain batik coklat bercorak fauna yang begitu rapi. Segera muncul kesan, sekolah ini mencintai batik.
 
Batik memang identik dengan SMPN 04 Pandak. Pelbagai corak batik itu merupakan karya siswa. Kepala sekolah, Ibu Retno Yuliastuti mengungkapkan bahwa mereka memiliki 12 guru batik berpengalaman. Melalui guru-guru itu, anak-anak diajarkan membatik hingga mampu menghasilkan kain batik dalam jumlah banyak. Bahkan batik bermotif jati ngaran hasil karya siswa ini digunakan sebagai seragam untuk siswa yang baru masuk.
 
Malah atas dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan Yayasan Pendidikan Astra-Michael D Ruslim, siswa membuat kerajinan batik yang dipasarkan ke luar lingkungan sekolah. Hasil dari penjualan batik tersebut dikelola oleh koperasi yang beranggotakan komite sekolah. Batik tulis karya para siswa ini dipasarkan melalui bermacam pameran yang diselenggarakan oleh perusahaan pemberi bantuan.
 
Pelajaran Membatik
Tolok ukur minat siswa terhadap pelajaran batik ialah keunikan pola yang berhasil dibuat. Semakin rumit pola, semakin terlihat cinta siswa kepada kegiatan membatik. Proses mencintai batik memang dilakukan berangsur-angsur. Kegiatan membatikmasuk dalam pelajaran, dengan tajuk muatan lokal sehingga rutin dilakukan, sebagaimana mata pelajaran yang ada di sekolah.
 
Motif-motif batik yang ditampilkan pada dinding dan tiang sekolah seperti mengingatkan kita agar teguh menghargai nilai-nilai budaya lokal. Motif dan pola batik didapat murid dari inspirasi sendiri. Meski begitu setiap pembuatan batik diberi tema yang ditentukan sekolah, dengan menyesuaikan ketersediaan warna yang ada. Corak bernilai filosofis bisa memiliki nilai tinggi. Sementara ini muatan filosofi masih diilhami corak-corak karya para pendahulu. Sedang pada tataran corak modern, sekolah masih harus menggali lebih dalam setiap tema yang diberikan.
 
Tira, salah seorang siswi, menceritakan suka duka tak terlupa ketika bersusah payah mencangklong, proses membatik yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Salah menggunakan, lilin bisa mengering atau meluber saat diaplikasikan di atas pola yang telah digambar. Tira menyenangi saat bersenang-senang dengan cara melentik-lentik cairan pewarna kepada teman-teman. Kegiatan yang mampu menghadirkan gelak-tawa.
 
Ramah Lingkungan
Mulai tahun ajaran ini, SMP Negeri 04 Pandak memanfaatkan pewarna alami pada proses pewarnaan batik. Hal itu terbit atas kesadaran pentingnya menjaga lingkungan sekitar sekolah. Kesadaran ramah lingkungan sebenarnya telah dilakukan sekolah pada limbah pewarna batik. Limbah tersebut diproses dengan teknologi sedemikian rupa agar tetap aman bagi lingkungan dan manusia.
 
Nilai ramah lingkungan diterapkan pula di kantin sekolah. Kantin tidak dibolehkan menjual makanan dan minuman berbungkus plastik. Setiap murid dianjurkan membawa bekal makan dan minum. Di kantin sekolah sudah disediakan peralatan makan khusus dengan nama siswa. Peralatan tersebut harus dicuci sendiri oleh siswa setelah digunakan.
 
Selain membatik, murid juga menekuni kriya batok kelapa dan budidaya jamur tiram. Berbagai produk kriya berbahan batok kelapa dibuat, mulai dari hiasan meja, vas bunga, pigura, dan produk lainnya. Bahkan koperasi komite sekolah dipercaya untuk menghasilkan kriya batok kelapa sebagai cinderamata sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Sedangkan budidaya jamur tiram melibatkan murid dalam proses pemeliharaan jamur tiram dan kegiatan panen. Mereka juga diajak mewujudkan daya kreasi dengan diberi kesempatan mengasah kemampuan dalam senu tulis dan lukis.
 
Perjuangan Gigih untuk memulai
Kegiatan sekolah dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, semua siswa, guru, petugas keamanan sekolah ikut menyanyikan dengan sikap khidmat. Sekolah ini memang sejak lama mengedepankan nilai-nilai kebangsaan pada setiap kegiatan pelajaran. Di balik semua kegiatan sekolah yang mengundang pujian, penuh greget kreativitas, bahkan kerap menjadi model sekolah lain tersebut, diawali dengan perjuangan gigih.
 
Ibu Retno mengisahkan kondisi awal ketika ia menjabat sebagai kepala sekolah, di tahun 2006. Beliau menggambarkan keadaan bangunan sekolah yang kusam tak terawat, kondisi taman tak terurus, corat coret di dinding sekolah, sampai kondisi lingkungan kotor dan bau karena sampah. Murid tidak disiplin, kurang percayaan diri, tak memiliki adab sopan santun, dan yang lebih parah ada yang terkena kasus hukum. Sementara para guru telah masuk zona nyaman, mengajar tanpa kreativitas. Proses belajar di sekolah menjadi datar.
 
“Saya masih teringat raut wajah beberapa pemangku kebijakan ketika memberi Surat Keputusan untuk menjadi kepala sekolah. Salah satu dari mereka berkata, “Semangat ya Bu, ini ladang ibadah untuk Ibu, banyak anak-anak SMP 04 Pandak membutuhkan sentuhan Ibu.” Saya menjawab mantap, “Siap, menjalankan tugas!”.
 
Ibu Retno menyadari betul beliau harus bekerja keras membawa perubahan dari cerita yang berkembang, daya dukung keamanan dan kesadaran untuk memperhatikan anak di daerah ini belum maksimal hingga kenakalan anak pun menyeruak. Kasus kehilangan, perundungan, perisakan dan pelanggaran menyita waktu untuk ditangani sehingga menganggu tugas-tugas lain. Namun bisa dilihat mengapa anak-anak itu berperilaku demikian, sebagian besar orang tua adalah pekerja malam hari. Sebagian anak berasal dari keluarga broken home yang kurang pengawasan. Setelah Ibu Retno dan tim sekolah mendekati beberapa tokoh masyarakat, mereka mengatakan bahwa hubungan sekolah dengan lingkungan selama ini kurang dekat. Di situ kunci permasalahannya. Mereka pun mulai menjalin kerja sama baik dengan tokoh-tokoh setempat, warga, Babinkamtibmas, Polisi dan TNI.
 
“Memberi Pagar Sekolah dengan Hati”
Ibu Retno mengakui, mengangkat satpam dan memberi gerbang pintu utama tidak menyelesaikan masalah. Setelah berembuh dengan komite sekolah dan guru, mereka sepakat untuk menata sisi karakter anak terlebih dahulu, mendekatkan mereka dengan kebiasaan-kebiasaan baik hingga hati merasa nyaman, dengan melatih kedisiplinan. Ibu Retno mengistilahkannya dengan “memberi pagar sekolah dengan hati”.
 
“Penanaman kedisiplinan melalui Kegiatan Bela Negara dengan asuhan Polisi dan TNI juga meningkatkan kebangsaan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Apabila budaya ini menjadi milik bersama, maka karakter baik akan terbentuk, dan ketika ini tercapai, tidak ada yang mustahil untuk beragam prestasi lainnya.” begitu tutur beliau.
 
Lambat laun situasi menjadi lebih baik. Komite sekolah, orang tua dan masyarakat juga bekerjasama melakukan pemantauan murid di luar sekolah. Kehadiran lembaga kepolisian dalam menangani anak-anak yang melakukan perundungan terhadap teman yang berbeda kelas, turut membangun suasana yang lebih baik. Penanganan kasus dilakukan secara kekeluargaan. Murid juga menghadirkan sosok masyarakat, seperti TNI dan Polisi di sekolah menjadi penting, agar sekolah tetap menjadi tempat yang ramah anak.
 
Mengenai kedisiplinan, sekolah berupaya lewat teladan perilaku para pendidik, dimulai dari datang terlebih dahulu ke sekolah, membuang sampah pada tempatnya. Tak jarang Ibu Retno menegur murid langsung, dan lebih lembut memberi isyarat kepada guru. Beliau meyakini, kedisiplinan sangat bagus dalam membangun tanggung jawab seluruh elemen sekolah, dari situ akan berpengaruh pada etos kerja cerdas juga tuntas.
 
Tri Sentra Pendidikan
Setidaknya, tiga agama yakni Islam, Katolik, dan Protestan ada di SMPN 04 Pandak. Dalam menyikapinya, sekolah mengadakan pelajaran agama dengan menghadirkan guru agama yang kompeten. Rancangan kegiatan sekolah selalu mengedepankan kegiatan yang secara umum dapat diterima baik oleh murid, guru, dan orang tua, seperti makan bersama, open school dan berkemah.
 
Sekolah juga memperhatikan lalu lintas informasi, dengan memberikan ruang-ruang pertemuan antar orang tua dengan pihak sekolah. Pertemuan memudahkan komunikasi antar mereka untuk melihat perkembangan anak lebih objektif. Orang tua dan masyarakat pun menjadi peduli dengan segala kegiatan yang dilakukan murid baik di dalam maupun di luar sekolah. Tak jarang orangtua melihat anak-anak berada di luar sekolah pada saat jam pelajaran.
 
Jalur komunikasi yang cukup intens itu membuat SMPN 04 Pandak berhasil mewujudkan Tri Sentra Pendidikan yang digagas Ki Hajar Dewantara, di mana alam keluarga diberi kesadaran untuk peduli kegiatan anak, alam pergerakan pemuda dalam hal ini masyarakat turut mendukung kegiatan pelajaran, dan alam perguruan yang diwakili sosok polisi dan TNI, menjadi mitra masyarakat dan sekolah.
 
Ada satu peristiwa yang memperlihatkan kepedulian alam keluarga terhadap alam perguruan yakni sekolah. Di suatu pagi, seorang bapak tergesa-gesa mencari seorang wali kelas, dengan membawa dasi anaknya yang tertinggal. Beliau rela membawakan dasi tertinggal ke sekolah karena memiliki kesadaran disiplin yang telah terbangun.
 
Ibu Retno berinisiatif menyuburkan motivasi belajar anak dengan mencipakan lingkungan sekolah yang asri dan nyaman, serta meningkatkan sumber daya manusia dalam hal ini guru dalam proses belajar mengajar. Para guru dibekali berbagai kegiatan positif, misalnya studi banding ke sekolah tertentu, wisata bersama dan pelatihan pengembangan media pelajaran yang meluaskan wawasan. Beliau juga mengundang tokoh seperti Bapak Arif Rachman, yang berbagi pengalaman tentang belajar dan mengajar kepada para guru.
 
Peningkatan kualitas guru dengan proses belajar mengajar, memiliki ikatan yang begitu erat. Guru yang dapat dengan baik membagikan ilmunya, bukan tidak mungkin akan memberikan motivasi belajar lebih tinggi kepada anak. Kalau murid sudah senang kepada seorang guru, motivasi belajar akan terus tumbuh lewat inspirasi yang didapatkan.
Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.