02
Jul 2019
JABAR MASAGI: MENJAWAB TANTANGAN KERAGAMAN
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Dari Jawa Barat, teman belajar kami adalah Ifa Misbach, Jabar #Masagi. Menurut Ifa, PPK sulit terimplementasi bila kita tak paham konteks lapangan dan tak ada dukungan penuh dari Pemerintah Daerah. Ifa juga sangat sepakat dengan pendapat Prof. Suprapti bahwa nilai kebangsaan harus menjadi prioritas. 

"Untuk PPK, kami melihat teksnya bagus tapi yang perlu keterampilan 'emotional social learning'. Sering untuk nilai religius, anak diajarkan sholat tepat waktu tapi biasa saja dengan bakiak berantakan atau toilet bau. Guru perlu jadi contoh. Makanya kami punya program 'laundry emosi'", kata Ifa.

Jabar Masagi sendiri melambangkan harmoni. Harmoni itu berdamai dengan diri, dengan alam, dan seluruh makhluk hidup untuk mewujudkan nilai kemanusiaan yang dititipkan Sang Maha Pencipta. Dan, harmoni dalam konteks sekolah berujung pada anak yang bagja (sejahtera, well-being). Sesederhana surti, harti, bukti, bakti, sajati. Apa itu?

Konsep masagi adalah konsep tentang manusia yang: 
1) Niti surti - belajar untuk merasakan
2) Niti harti - belajar untuk mengetahui
3) Niti bukti - belajar untuk melakukan
4) Niti bakti - belajar untuk hidup bersama
5) Niti jadi/sajati - belajar menuju sempurna
Konsep ini tidak menjanjikan 'surga' tetapi mengajak semua manusia untuk hidup bersama dan bagja. 

Dari Jabar Masagi, kami belajar banyak tentang betapa kaya dan dalamnya nilai-nilai budaya yang ada di nusantara. Semuanya itu sumber belajar yang luar biasa untuk hidup bersama di Indonesia kita yang Bineka.

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.