26
Dec 2018
NGOBROL PENDIDIKAN #2: PERKAWINAN ANAK DAN MASA DEPAN BANGSA
Post by: Admin
Share:  
 

Purwakarta- Yayasan Cahaya Guru pada sabtu (22/12/18) berkesempatan untuk bertemu dengan para orang tua murid dan guru dari Sekolah Dasar Negeri 1 Cisarua, yang berada di kawasan Gunung Parang, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Loveria Sekarrini, SKM, MKM, konsultan kesehatan reproduksi menjadi teman belajar bagi para orang tua serta guru yang dalam kesempatan NGOPI #2 bertema "Perkawinan Anak dan Masa Depan Bangsa".

Henny Supolo menuturkan bahwa, "Dalam kesempatan NGOPI kali ini bertepatan dengan kongres perempuan, yang besar artinya bagi bangsa ini. Dan saya tidak ini itu dikurangi nilainya, karena semua perempuan, baik seorang ibu, seorang nenek, seorang buyut, seorang kakak, seorang adik, siapapun perempuan itu memiliki peran sangat penting bagi kemerdekaan bangsa, dan juga mengisi kemerdekaan ini."

Dalam kesempatan tersebut orang tua serta guru, menemukan kasus pernikahan anak yang dilatar belakangi orang beberapa faktor, seperti kurang kontral masyarakat terhadap anak, stereotipe umur tua dalam masyarakat, serta adanya kekhawatiran tidak akan mendapatkan jodoh saat umur matang.

Suharsono salah seorang guru menuturkan, "Ada salah seorang murid saya setelah lulus sekolah dasar menikah, alasan yang diungkap oleh anak tersebut ialah adanya kekhawatiran tidak mendapatkan jodoh, serta dari pihak orang tua memiliki rasa malu apabila anak terlalu lama tidak menikah".

Berbeda dengan temuan Yatnika Kamelia, "Penikahan anak juga bisa terjadi karena adanya perjodohan dari orang tua, juga karena adanya omongan dari oknum-oknum yang memiliki pandangan berbeda tentang definisi "tua"."

Loveria Sekarrini berbagi tentang faktor resiko hamil usia muda, usia sempurna organ reproduksi, kesiapan pasutri dalam menghadapi masa kehamilan, melahirkan, hingga menyusui.

"Pentingnya tema ini dengan masa depan bangsa ialah, karena masih banyaknya dimasyarakat kita yang menikahkan anak pada usia dini, ini memicu masalah kesehatan reproduksi yang timbul mulai komplikasi hingga kematian ibu. Angka kematian ibu di Indonesia termasuk tinggi, apa kita mau diam saja dan ini terus berjalan? Kita harus sama-sama bergerak untuk mengubah cara pandang, agar remaja perempuan tidak menikah pada usia muda serta hamil muda, karena resiko komplikasi, kehamilan dan persalinan cukup besar. Jangan pula kita menambah angka kematian ibu yang ada di Indonesia." ujar Loveria Sekarrini.

Adapun Dian Misastra menyatakan bahwa perempuan punya peran penting dalam kehidupan berkeluarga terutama pada pendidikan di rumah, karena menurutnya anak memiliki kedekatan dengan Ibu dibandingkan dengan bapak.

"Mudah-mudahan apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkna, apa yang kemudian kita bisa lakukan bersama-sama dengan keluarga di rumah, dan masyarakat di sekitar bisa membantu bangsa ini untuk lebih baik lagi di masa depan", tutup Henny Supolo. (FIM)

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.