14
Nov 2018
NGOBROLIN INDONESIA VOL. IV: "SUPERHEREOS: INSPIRASI KEPAHLAWANAN DI TENGAH KEMAJEMUKAN INDONESIA"
Post by: Yayasan Cahaya Guru
Share:  
 

Perayaan Hari Pahlawan masa kini menjadi momentum untuk menemukan para pahlawan yang dekat dengan lingkungan kita. Pelbagai tantangan yang turut hadir, perlahan tapi pasti mulai terjawab oleh para pahlawan muda yang berani bergerak menawarkan solusi, dengan cara serta pendekatan kepemimpinan yang baru

Semangat para pahlawan bangsa, sebenarnya tetap hadir pada setiap diri kita untuk mengisi kemerdekaan yang telah diraih. Semangat itu pula yang mendorong para terselenggaranya acara diskusi Ngobrolin Indonesia Vol. IV yang diinisiasi oleh komunitas lintas generasi dan lintas sektor, Ngobrolin Indonesia.

Pada hari Sabtu, 10 November 2018, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Ngobrolin Indonesia terkumpul pelbagai anggota komunitas lintas generasi dan lintas sektor, untuk membicarakan "Inspirasi Kepahlawanan di Tengah Kemajemukan Indonesia".

Seperti yang dipaparkan Bondan Kanumoyoso, Sejarawan dari Universitas Indonesia, kualitas kepemimpinan dan semangat perubahan menjadi karakter utama kelompok muda yang telah terlihat sejak sebelum kemerdekaan republik ini.

“Jika menilik makna pahlawan dalam sejarah Indonesia, kita perlu terlebih dahulu mengetahui permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat. Pada masa kemerdekaan, kita memiliki kesamaan, yaitu keinginan untuk merdeka. Tujuan ini yang kemudian ingin diwujudkan secara kolektif, dengan kelompok muda sebagai penggerak. Saat ini, tantangan kita sudah beralih, yaitu bagaimana mengisi kemerdekaan yang sudah kita raih, termasuk tantangan di sektor bisnis, pembangunan kualitas sumber daya manusia, lingkungan, olahraga, dan masih banyak lagi,” demikian ungkap Bondan Kanumoyoso.

Salah satu organisasi yang turut berkontribusi pada peningkatan kualitas SDM di Indonesia adalah Institut Kapal Perempuan. Misi Misiyah, Direktur Eksekutif Institut Kapal Perempuan, menekankan peran perempuan sebagai pahlawan di keluarga dan masyarakat.

“Selama ini, konstruksi sosial yang menciptakan ilusi seolah-olah perempuan adalah masyarakat kelas dua. Padahal ketika kita memberdayakan perempuan, artinya kita juga memberdayakan masyarakat untuk memastikan kualitas terbaik generasi muda Indonesia. Hal ini yang terjadi ketika proses pemulihan pasca bencana di Lombok. Perempuan yang berdaya mampu menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak-anak dari kondisi yang tidak diinginkan, seperti pelecehan seksual. Di saat yang bersamaan, perempuan juga lah yang berkomitmen memenuhi kebutuhan nutrisi dan sanitasi bagi masyarakat dalam kondisi yang kurang menguntungkan sekalipun,” ujar Misi.

Turut hadir dalam acara ini, para guru dari Sekolah Guru Kebinekaan, yang juga mendapatkan kesempatan berdiskusi dan menanggapi tema yang didiskusikan. Kegiatan semacam ini, menjadi ajang bagi guru untuk berbagi, berkomunikasi dan berelasi. (FI)

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.