22
Oct 2018
PERNAHKAH KITA MENEMANI PARA GURU?
Post by: Admin
Share:  
 

Jakarta – Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam (UIN) Syarif Hidayatullah meluncurkan Survei Nasional tentang Sikap Keberagaman Guru Sekolah/Madrasah di Indonesia, Selasa (16/10/2018). Hasil survei yang diluncurkan PPIM UIN Jakarta cukup mengejutkan, enam dari sepuluh guru Muslim terindikasi miliki opini intoleran.

Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo Sitepu menjadi pembahas yang kemudian mengajak semua yang hadir untuk membaca dan mengingat kembali pasal 4 UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan, bahwa penyelenggaraan pendidikan harus menjunjung tinggi HAM, tidak diskriminatif, demokratis, menjunjung nilai keagamaan, menjunjung kemajemukan bangsa, dan budaya bangsa.

“Pemahaman bahwa seluruh penyelenggaraan pendidikan harus mengacu kepada prinsip ini, saya kira akan bisa jauh mengantisipasi dan mengimbangi hasil-hasil (penelitian) ini. Karena kalau kita mengatakan, guru-guru penuh dengan potensi-potensi intoleransi, maka saya yakin bahwa orang-orang tersebut tidak memahami, apa yang menjadi prinsip seluruh penyelenggara pendidikan. Dan kenapa itu terjadi? Jawabannya itu bisa macam-macam”, ungkap Henny Supolo.

Menurut Henny, sudah saatnya seluruh lapisan masyarakat membantu dan mendampingi guru. Hal tersebut sesuai ide luhur tiga pusat pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yaitu alam perguruan, keluarga, dan pergerakan pemuda.

Hal yang dilakukan oleh Yayasan Cahaya Guru untuk meretas sekat prasangka ialah dengan membuat ruang perjumpaan, yaitu dengan program Sekolah Guru Kebinekaan. Pada kegiatan itu, guru-guru mendapatkan kesempatan untuk bertemu guru lain yang berbeda agama, dan berinteraksi satu sama lain. Kemudian para guru diajak untuk mengunjungi rumah ibadah seperti gereja, pura, vihara, klenteng, dan masjid.

Kesempatan untuk bertemu, berbicara, dan berdiskusi semacam itu, merupakan kesempatan yang sangat mahal bagi para guru. Bahkan Henny menemukan seorang guru berumur 34 tahun, yang seumur hidupnya hanya bergaul dengan teman sesama Muslim saja. Guru tersebut mengatakan kepada Henny, “Saya baru tahu bu, bahwa orang Katolik itu ramah”.

“Ada faktor lain yang juga harus kita gali, jangan-jangan tidak tahu, bukan tidak mau. Dan dalam ketidaktahuan maka pengetahuan yang diberikan turun temurun dari guru, ditelan sebagai satu fakta, ini salah satu kemungkinan yang perlu perhatikan, dan ini juga yang membuat ruang perjumpaan sangat penting”, tutup Henny Supolo.

(FIM)

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.