02
Oct 2018
BAGAIMANA MENCEGAH RADIKALISME DI SEKOLAH DASAR
Post by: Admin
Share:  
 

Bandar Lampung – Anak-anak perlu diberikan pemahaman yang inklusif dan toleran sebagai upaya untuk mencegah virus radikalisme yang kapan saja bisa menyerang. Oleh sebab itu, Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan Yayasan Cahaya Guru melaksanakan Workshop Pengembangan Pendidikan Keragaman dan Kebangsaan di Bandar Lampung, Selasa 2 Oktober 2018.

Menurut analisis Puskurbuk, Lampung merupakan daerah yang mempunyai potensi intoleransi. Oleh sebab itu, perlu upaya menyemai nilai toleransi dan keragaman dari ruang-ruang kelas. Workshop ini diikuti oleh 20 guru dari SDN 1 Kampung Baru dan SDN 2 Sukarame. Workshop difasilitasi oleh Muhammad Mukhlisin, Program Manajer Yayasan Cahaya Guru.

 

 

Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2015, total penduduk di Kota Bandar Lampung berkisar 1,166,761 jiwa yang terdiri dari beragam suku bangsa. Di antaranya adalah Jawa, Lampung, Sunda, Palembang, Bali, Minangkabau, Batak, Tionghoa, dll. Penganut agama pun beragam. Islam sebanyak 89.61%, Kristen Protestan 3.71%, Buddha 3.61%, Katolik 2.12%, Hindu 0.91%, Kong Hu Cu 0.04%. Melihat data tersebut, Kota Bandar Lampung bisa digambarkan sebagai kota yang beragam.

Beruntung para guru SD ini sudah memahami keragaman yang ada di sekitar mereka. Eni Triyani, Guru SDN 1 Kampung Baru menyatakan toleransi perlu diajarkan sejak dini kepada anak murid. Eni mengajak anak muridnya, yang masih kelas 1 SD, untuk saling berkunjung ke rumah temannya yang berbeda agama/suku.

“Kurangnya keterbukaan guru dan wali murid sering kali menjadi hambatan, selain itu fasilitas kurang memadai” resahnya.

Budi Purwanto, Guru PJOK SDN 2 Sukarame berupaya untuk menerapkan prinsip non-diskriminasi terhadap semua muridnya, tanpa melihat latar belakang. Dia juga memberikan kesempatan kepada setiap muridnya untuk memimpin dalam setiap kegiatan olahraga. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan rasa kesetaraan. Siapa pun bisa menjadi pemimpin. Baik laki-laki maupun perempuan.

“Ketika anak berbuat baik, maka akan mendapatkan poin” demikian ucap Irfan Fadhlullah, guru kelas 6 SDN 1 Kampung Baru. Dia menerapkan penilaian sikap toleransi melalui poin-poin yang menarik. Menurutnya, apresiasi terhadap sikap positif sangat membantu anak untuk terus berkembang.

Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Mukhlisin menyatakan, guru jangan abai terhadap benih-benih intoleransi. Meskipun terhadap anak usia dini. Inisiatif-inisiatif kreatif semoga terus dikembangkan guru untuk menyemai nilai toleransi, kebangsaan, dan keragaman. Salah satunya, guru dapat menggunakan potensi lingkungan yang beragam untuk dijadikan sebagai sumber belajar. Berikan juga kesempatan kepada anak untuk berjumpa dengan orang-orang yang beragam. Hal itu akan memberikan manfaat besar bagi tumbuh kembang anak. [MM]

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.