20
Aug 2018
PARA GURU PELOPOR HAPUAMA
Post by: Admin
Share:  
 

Kamis malam pada tanggal 16 Agustus 2018, menjelang Isya kami tim Yayasan Cahaya Guru berangkat dari penginapandi Sawai. Malam itu kami akan bertemu dengan kepala sekolah dan guru-guru dari SDN 1 Sawai. Diperjalanan kami melihat riuh dan hiruk pikuk masyarakat Sawai. Sepertinya seluruh warga keluar rumah untuk mempersiapkan perayaan 17-an besok.

Hal yang jarang saya lihat dimasa sekarang ini. Anak-anak berlarian sambil memegang bendera merah putih berukuran kecil, para orang tua berkumpul dan berdiskusi sambil sesekali melihat tayangantelevisi. Saya jadi teringat waktu dulu saya masih kecil. Di kampung saya sebelum listrik masuk, kami selalu menonton bersama siapa yang duluan datang maka dia duduk paling depan dekat dengan TV.

Rasa kekeluargaan di Sawai ini sungguh luar biasa. Raut wajah yang ceria dan bersuka cita, betapa tinggi nasionalisme mereka.Perayaan 17-an merupakan hajat besar bagi mereka, dimana pada saat Upacara peringatan HUT RI seluruh warga akan berkumpul bahkan dari kampung tetangga semuanya datang ke Sawai dan merayakan dengan penuh khidmat dan kebanggaan.

Tidak terasa akhirnya kami sampai di rumah Bapak Muhamad Jamil Mukadar, beliau adalah seorang kepala sekolah SDN 1 Sawai. Setelah dipersilahkan masuk kami dipersilahkan duduk, sudah nampak beberapa kursi cadangan di pojok ruangan. Tapi ada satu hal yang membuat saya tertarik juga, yaitu dodol durian khas Sawai.

Tidak berapa lama kemudian datang beberapa ibu-ibu, ternyata beliau-beliau ini adalah tenaga pendidik di SDN 1 Sawai, hampir semua guru-guru ini sudah mengajar lebih dari 25 Tahun. Satu persatu kami perkenalkan diri, dilanjut dengan perkenalan dari masing-masing guru.

Diawali dari ceritaKepala Sekolah Pak Mukadar, beliau menuturkan sejarah singkat tentang SDN 1 Sawai. Menurut beliau sebelum adanya pemekaran di Sawai, siswa di SDN 1 Sawai mencapai lebih dari 200 siswa, maka dipecah lagi menjadi 2 sekolah yaitu SDN 1 dan 2 Sawai.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk, maka Sawai dimekarkan lagi menjadi beberapa Dusun diantaranya Rumah Olat, Olong dan Masih Hulan. Jauh sebelum adanya sekolah pada masing-masing dusun anak-anak tetap bersekolah ke Sawai dengan menyeberang teluk Sawai.

Pertumbuhan penduduk di tiap dusun terus meningkat hal ini menjadi dasar di bangunlah sekolah setiap Dusun, agar anak-anak tidak terlalu jauh untuk bersekolah. Tinggalah 2 sekolah yang ada di Sawai, yaitu SDN 1 dan 2 Sawai namun sekolah ini hanya memiliki satu gedung. Maka diadakan pembagian waktu belajar pagi dan siang.

Menurut guru-guru,dulu sebelum berhasilnya program keluarga berencana, setiap keluarga memiliki banyak anak bahkan sampai lebih dari 12 orang anak. Dapat kita bayangkan betapa cepat pertumbuhan penduduk pada waktu itu.

Namun seiring berjalan waktu jumlah penduduk berkurang, kini setiap keluarga paling banyak miliki 4 orang anak, sehinggaberdampak pada jumlah siswa di sekolah. Selain itubanyak anak yanglebih tertarik mengikuti orang tuanya ke pertambakan udang, dan bersekolah di daerah lain.

Pada saatkonflik Ambon sekitar tahun 1999-2004, banyak siswa pindahan dari daerah lain. Hal ini terjadi karena Sawai adalah salah satu tempat yang dirasa aman untuk berlindung dari ganasnya arus konflik. Dengan sigap dan penuh keikhlasan guru-guru di Sawai merangkul semua siswa pindahan yang datang, tanpa membedakan latar belakang agama ataupun keluarga. Hapuama berarti merangkul, sikap inilah yang terus menerus tumbuh subur di hati penduduk Sawai.

Selain mengajar di sekolah dasar, para guru tersebut merupakan pelopor berdirinya SMPN 1 Sawai, merekalah yang pertama kali mengajar di SMP sebelum adanya guru khusus SMP, pada awalnya pelaksanaan pembelajaran berlangsung dengan menumpang di SDN 1 Sawai.

Kemudian para guru berjuang untuk mendapatkan bantuan sarana dan prasarana, dan bersyukur perjuangan para guru tidak sia-sia, karena pada para siswa SMP pindah ke lokasi yang baru, untuk proses belajar dan mengajar, bangunan baruhadir 3 lokal dan merupakan bangunan semi permanen.

Bapak Mukadar adalah sosok kepala sekolah yang dianggap sebagai tokoh pula di masyarakat. Pengambilan keputusan beliau selalu didengar oleh pihak sekolah ataupun warga. Hal ini bisa dilihat ketika terjadinya konflik, dengan penuh keyakinan beliau mengajak keluarga sekolah untuk bahu-membahu menstabilkan kondisi sekolah agar tidak terkena dampak konflik.

Bahkan pada perayaan upacara Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-73 di Sawai, beliau ini yang menjadi komandan upacara. Sungguh luar biasa diusia yang tidak lagi muda namun semangat beliau ini tak sedikitpun terlihat menurun.

Dari kegiatan bacarita diatas banyak hal patut kita contoh, bagaimana sikap kekeluargaan, Hapuama (merangkul),kebanggaan, nasionalisme serta keramah tamahan masyarakat Sawai.

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.