10
Mar 2018
MENGHIDUPKAN NILAI DALAM PENDIDIKAN
Post by: Admin
Share:  
 

Jakarta, YCG – “Nilai tidak bisa diajarkan melainkan dirasakan” demikian tutur Budhy Munawar Rachman, pelatih Living Values Education (LVE), pada saat Sekolah Guru Kebinekaan Lanjutan 2018 di Perpustakaan Kemdikbud RI, Sabtu 10 Maret 2018.

Masyarakat terutama anak-anak saat ini semakin rentan terkena dampak negatif seperti kekerasan, intoleransi dan kurangnya rasa menghargai pada sesama. Oleh sebab itu, pendidikan yang menghidupkan nilai semakin penting diterapkan untuk menawarkan pengalaman positif dan memberikan dampak memperkuat nilai-nilai kehidupan yang universal.


“Ada 12 nilai yang hendaknya kita terapkan dalam pendidikan supaya menjadi nilai yang nyata dalam kehidupan yaitu perdamaian, penghargaan, cinta, toleransi, jujur, tanggung jawab, kesederhanaan, rendah hati, kebahagiaan, kebebasan, kerjasama, persatuan” tegas pria yang menjadi Program Officer Islam and Development di The Asia Foundation tersebut.

Lantas bagaimana seharusnya guru mengembangkan pendidikan yang menghidupkan nilai?

Ada empat tahap yang bisa dijadikan acuan. Pertama, learn how to know (belajar untuk mengetahui). Kedua, learn how to do (belajar untuk melakukan). Ketiga, learn how to be (belajar untuk menjadi). Keempat, learn how to live together or learn to live with others (belajar untuk hidup bersama).

Dalam kesempatan tersebut, Budhy mengajak para guru SGKL untuk mencari nilai dari Sekolah Guru Kebinekaan melalui permainan yang sangat menyenangkan. Hasilnya, para guru memaknai SGK dalam bentuk hasil karya yang sangat indah dan beragam. Diantaranya ada yang menggambar benteng Indonesia lengkap dengan berbagai rumah ibadah. Ada pula yang memaknai sebagai rumah bersama, dan kupu-kupu yang sangat indah.

“Pertemuan SGKL hari ini menyegarkan dan menajamkan saya akan nilai-nilai universal yang harus diterapkan. Guru punya andil besar dalam penguatan nilai kehidupan. Bagaimana pun, generasi berkualitas hanya dilahirkan oleh guru yang berkualitas pula. Akan hal inilah, guru perlu terlebih dahulu harus memiliki nilai personal pendidik hingga akhirnya anak merasa dicintai, dimengerti, bernilai, dihargai, dan merasa aman. Anak-anak perlu tumbuh dengan perasaan positif. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire, bahwa pendidikan bertujuan untuk memerdekakan anak”. Ucap Indah Nova Manurung, peserta SGKL 2018.

Hal senada diungkapkan peserta lain, Yulinda. Menurutnya, mendidik dengan cinta dan kasih sayang adalah basis dari nilai kehidupan yang perlu diwujudkan bukan hanya diajarkan. Oleh sebab itu, perlu peranan orang tua dan guru untuk menumbuhkan nilai-nilai kehidupan sebagai fitrah alami anak. [MM]

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.