28
Oct 2017
Sumpah Pemuda dan Nilai Keragaman Belajar dari Komunitas Sangga Buana
Post by: Admin
Share:  
 
Di tengah keprihatinan intoleransi, kita perlu memperkuat optimisme dan semangat perdamaian melalui narasi-narasi kecil di tengah masyarakat. Data dari Wahid Foundation tahun 2016 lalu menyebutkan, 72 persen umat Islam Indonesia menolak untuk berbuat radikal seperti melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain atau melakukan sweeping tempat yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam. 
Meskipun sebanyak 7,7 persen yang bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal. Kita perlu prihatin dengan hal tersebut. 
Namun, narasi kecil perdamaian di tengah masyarakat akan menjadi oase di tengah gersangnya keteladanan perdamaian. Salah satu narasi itu dapat kita temukan di komunitas Sangga Buana, di Cinere, Depok. Komunitas di bawah asuhan Haji Idin Chaerudin atau Babe Idin ini mampu memberikan teladan bagaimana bermasyarakat yang rukun, damai, dan mandiri. 
Lebih dari 30 tahun Babe Idin dan Komunitasnya, Sangga Buana, mengelola hutan kota yang dulunya tempat sampah di bilangan Kali Pesanggrahan, Cinere, Jakarta Selatan.
Awalnya, Babe Idin dianggap orang gila, dan penganut ilmu hitam. Hidupnya berkutat di sungai, sampah, hutan, melepas-liarkan bibit ikan. Sesekali dia mendongeng dan bernyanyi lagu-lagu khas betawi. Jali-jali contohnya.
Namun, Babe Idin mengajarkan makna karakter sesungguhnya. Menurutnya persoalan terbesar di negeri ini saat ini adalah karakter. Pola pikir anak-anak muda saat ini adalah sekolah, kuliah, cari kerja, disuruh, tugas, dibayar. Sementara persoalan bangsa ini semakin menumpuk.
“Menjadi jawara harus mendengarkan suara keberagaman” tegas Babe Idin. Keragaman merupakan salah satu karakter penting dalam bangsa kita saat ini. Dia menegaskan, “gue muslim, tapi gue bukan Arab bukan Amerika” ungkapnya. 
Sayangnya, menurut Babe Idin, di negeri ini banyak orang pintar, namun sedikit yang paham. Dan bagi Babe Idin, perlu mental jawara untuk membenahi bangsa ini.
"Jawara itu bukan mukul orang, mati klenger. Tapi, ikhlas, tawadlu' dan tanggung jawab, profesional dan menghargai perbedaan" tegas pria yang terkenal dengan si Jampang dari Kali Pesanggarahan tersebut.
Pagi itu, setelah berdiskusi di saungnya, kami diajak Babe Idin untuk berkeliling empang, melepaskan ikan ke sungai, menanam pohon, berkeliling hutan, menempa bilah, pengelolaan sampah, dan melihat lapangan sepak bola yang dikelolanya. Babe Idin mengajarkan kemandirian dan keuletan. 
Sementara itu, Buddhy Munawar Rachman, pemikir keislaman dan dosen Universitas Paramadina yang hadir pula di Sangga buana berdetak kagum melihat apa sudah dilakukan Babe Idin. Menurutnya, apa yang dilakukan Babe Idin adalah contoh nyata bagaimana menghidupkan nilai karakter dalam masyarakat. 
“Selama ini kita terlalu banyak mengajarkan dengan kata-kata, kalau seperti itu saja, tidak akan bisa” tegas Buddhy. “Untuk mengajarkan nilai perlu ditunjukkan, seperti yang telah ditunjukkan oleh Babe Idin barusan” lanjut Buddhy.
Dari Babe Idin kita dapat mengambil empat kesimpulan. Pertama adalah, learning how to know. Belajar untuk tahu. Kemudian yang kedua adalah learning how to doing, belajar bagaimana melakukan. Dan ketiga, learning how to be, belajar bagaimana menjadi. Dan yang terakhir adalah live together, hidup bersama. 
Para peserta SGK merasa sangat beruntung bisa berkunjung dan berdiskusi langsung dengan Babe Idin. Bagi mereka ini adalah kesempatan langka dapat berguru dengan “rektor universitas kali pesanggrahan” tersebut. 
 
Wahyu Purnomo Aji, Guru SMK Fransiskus menyatakan kagum terhadap Komunitas Sangga Buana, terutama Babe Idin. “saya sangat terkesan dengan Babe Idin, yang menumbuhkan kesadaran karakter dalam diri kita. Saya seorang Katolik, namun saya bukan Yahudi, saya Indonesia” tegas Wahyu. 
 
Sementara itu, Resmiatin salah satu guru SGK mengungkapkan kesedihannya karena dia mengajar di sekolah internasional yang jiwa nasionalismenya sangat rendah. Sementara, tidak sedikit anak-anak kita yang belajar di sana. Dia berharap setelah mendapatkan informasi dari Komunitas Sangga Buana ini dia dapat menularkan semangat nasionalisme, kemandirian, dan cinta tanah air kepada muridnya. 

Foto-foto kegiatan:

H Chaerudin (Babe Idin), paling kiri, berdiskusi santai dengan para peserta SGK 2017

 

Para guru melepas-liarkan ikan ke aliran sungai Kali Pesanggarahan

Para peserta SGK sedang menanam benih pohon di wilayah Hutan Kota Kali Pesanggrahan

Meninjau lokasi pengelolaan sampah

 

Belajar menempa bilah, dengan bahan-bahan hasil daur ulang

 

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.