23
Sep 2017
Golden Rule dan Penerapannya di Sekolah
Post by: Admin
Share:  
 
Pada zaman aksial , 900-200 sebelum Masehi, muncul ajaran-ajaran kasih sayang (compassion). Pada masa ini lahirlah revolusi spiritual kemanusiaan dengan subur tumbuhnya agama-agama awal (Konghucu, Hindu, Buddha,dll) . Ajaran-ajaran ini muncul karena masyarakat merasa letih dengan berbagai kekerasan dan peperangan yang terjadi kala itu. Pada masa ini tumbuh pula prinsip etika utama yang disebut kaidah emas (golden rule).
"Bunyi sederhana golden rule itu adalah jangan lakukan pada orang lain, sesuatu yang kau tidak ingin orang lain melakukannya pada dirimu. Kaidah emas mengandung prinsip resiprositas (timbal balik)" demikian ungkap Dr. Zainal Abidin Bagir, Direktur Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS) UGM saat menyampaikan materi di Sekolah Guru Kebinekaan, 23 September 2017.
Begitu juga ketika terjadi perang dunia 1 dan 2. Dalam sejarah manusia, peperangan ini sungguh sangat kelam, lebih dari 70 juta korban manusia meninggal dunia. Keletihan serupa muncul. Sehingga muncullah deklarasi Hak Asasi Manusia (HAM) pada tahun 1948. Menurut Zainal, HAM merupakan pelembagaan secara prinsip dari kaidah emas.
"Kaidah emas bisa dipandang sebagai basis dari toleransi maupun ide yang diungkapkan dalam HAM" tegas Zainal. Kaidah emas, lanjut Zainal maupun toleransi bersifat praktis berdasarkan pengalaman etika sehari-hari, bukan sesuatu yang abstrak.
Zainal menegaskan, kaidah emas merupakan kesadaran yang basisnya adalah pengalaman. Penanaman kaidah emas diharapkan dapat membawa pada kesadaran akan HAM, khususnya hak beragama di lingkungan sekolah.
Kondisi saat ini memperlihatkan kesempatan perjumpaan para siswa dengan latar belakang agama berbeda amatlah terbatas, terutama di sekolah negeri.Oleh sebab itu, selain fokus pada pengajaran, guru perlu mengupayakan perjumpaan seluas mungkin. Bagaimanapun, siswa membutuhkan kemampuan bekerjasama dengan teman dari berbagai latar belakang, untuk menyiapkan diri menyongsong masa depan gemilang.
Guru dan lingkungan sekolah mempunyai peran sangat penting untuk mempraktikkan prinsip kaidah emas dalam kehidupan murid. Salah satu contohnya adalah menerapkan prinsip kaidah emas dalam tata tertib sekolah, jika siswa tidak boleh terlambat, maka begitu pun juga dengan guru, bahkan kepala sekolah.
"Di sekolah kami, jika murid terlambat maka dia akan dihukum sesuai dengan mata pelajaran, misalnya menghafal kosakata untuk mata pelajaran bahasa. Jika guru terlambat, juga mendapatkan sanksi juga" demikian ungkap Dotman Golden, salah satu peserta SGK.
Dalam diskusi guru-guru Sekolah Guru Kebinekaan Penerapan kaidah emas ini sesuai dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan Pasal 4 Ayat 1 UU Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi "Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa."
 

Peserta sedang seru menempelkan hasil diskusi kelompok

Peserta mengajukan pertanyaan ke narasumber

Berfoto bersama narasumber, Bapak Zainal Abidin Bagir.

Suasana diskusi bersama narasumber Bapak Zainal Abidin Bagir

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.