16
Sep 2017
Keragaman Agama dan Kepercayaan
Post by: Admin
Share:  
 
Jauh sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, masyarakat Nusantara telah hidup menganut agama-agama lokal. Sekitar 14 abad lamanya Hinduisme dan Buddhisme subur di Nusantara, kemudian pengaruh Islam selama 7 abad, dan sekitar 4 abad hidup dalam pengaruh Kristen. 
Masyarakat pra sejarah Nusantara telah lama mengembangkan sistem kepercayaan sendiri, secara umum banyak ilmuwan mengkategorikan sebagai animisme dan dinamisme (belakangan kategorisasi ini mengandung makna yang peyoratif). Sistem penyembahan dari kepercayaan ini berkembang seiring dengan perkembangan cara hidup manusia. 
Sekitar abad ke-3 dan ke-4 masehi mulai masuk pengaruh agama sejarah dari India (Hindu dan Buddha), disusul oleh pengaruh Islam dari Timur Tengah yang dibawa masuk oleh para pedagang dari pelbagai ras (Arab, India, China dan lain-lain), mulai sekitar abad ke-7 dan tersebar luas setidaknya sejak abad ke-13. Hampir bersamaan dengan penyebaran agama Islam, masuk pula pengaruh keagamaan dari China (Konghucu), menyusul kemudian pengaruh Kristen dari Eropa setidaknya sejak abad ke-13. 
Di tengah derasnya arus gempuran agama dari peradaban lain, tidak serta merta sistem keagamaan Nusantara musnah. Di berbagai daerah sistem kepercayaan dan agama yang diwariskan dari zaman pra sejarah masih bertahan. Seperti Sunda Wiwitan di Kanekes Banten, Sunda Wiwitan aliran Madrais di Kuningan Jawa Barat, agama Buhun di Jawa Barat, Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur, agama Parmalim agama asli Batak, Kaharingan di Kalimantan, kepercayaan Tonaas Walian di Minahasa, Sulawesi Utara, Tolottang di Sulawesi Selatan, Naurus di Pulau Seram, Maluku, Sedulur Sikep di Pati, dll. 
Sayangnya keragaman agama dan kepercayaan seperti ini masing dimaknai sebagai ancaman oleh kelompok tertentu. Sehingga sering terjadi intimidasi, diskriminasi, dan persekusi, terhadap kelompok agama yang rentan, seperti minoritas agama seperti Konghucu, Baha'i, Sikh, Taoisme, Yahudi, dll atau minoritas mazhab seperti Ahmadiyah, Syiah.
Oleh sebab itu, Sekolah Guru Kebinekaan pertemuan 8 ini menghadirkan teman belajar. Ibu Rahmi dari  agama Baha’i, Bapak Nurdin dari Ahmadiyah, Bapak Subagio dari Penghayat Sapto Darmo, dan Bapak Gunadi dari Konghucu.
Kegiatan dimulai dengan membicarakan apa yang diketahui peserta dan apa yang ingin diketahui. Banyak peserta yang tidak tahu mengenai agama Baha’i. Mengenal Ahmadiyah hanya dari kasusnya saja, menganggap Konghucu sebagai kebudayaan, bukan agama, dll. Kesempatan ini merupakan kesempatan yang berharga buat para guru. Mereka bisa menanyakan langsung asumsi-asumsi yang selama ini belum tentu benar. 
Koidah, salah satu guru peserta SGK dari Cirebon menuturkan, perjumpaan seperti ini perlu diadakan lebih luas. “Secara pribadi saya baru tahu kalau Baha’i adalah agama, saya menyangka Baha’i adalah aliran kepercayaan. Saya mempunyai pengetahuan yang bisa saya ajarkan mengenai macam-macam agama di Indonesia yang selama ini tidak diekspos oleh negara. Agar generasi milenial lebih cinta terhadap keberagaman” tegas Koidah. 
“Saya belajar banyak hal yang berbeda dari yang saya ketahui sebelumnya tentang ahmadiyah. Fakta yang dijelaskan oleh pak Nurdin tadi semoga bisa diketahui oleh banyak orang juga, sehingga penganut ajaran ini yang berjumlah ratusan ribu bisa menjalankan ajarannya dengan damai” ungkap Reski Intan, salah satu guru peserta SGK. 
Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.