05
Aug 2017
Kunjungan Rumah Ibadah
Post by: Admin
Upaya merajut harmoni antar umat beragama dapat dilakukan salah satunya dengan membuka ruang-ruang perjumpaan antar pemeluk agama lain. Seperti yang dilakukan oleh guru-guru peserta Sekolah Guru Keberagaman (SGK) Sabtu, 05 Agustus 2017. Pada pertemuan Sekolah Guru Kebinekaan yang ke-6 ini para guru mengunjungi tempat peribadatan lintas agama. Mulai dari Gereja Katedral, Masjid Istiqlal, Vihara Dhammacaka, dan diakhiri di Pura Aditya Jaya. 
 
Dalam setiap perjumpaan pasti ada pengalaman baru yang didapatkan. Dalam kunjungan ini, para peserta menggunakan seluruh penginderaan yang mereka miliki untuk melihat, merasa dan memahami setiap nuansa yang dihadirkan di dalamnya. Tempat ibadah tidak semata-mata menjadi ruang ritual, namun sarat akan kepelbagaiannya. Melalui paparan pemandu, para peserta dapat menemukan kejelasan historis dan arti filosofis dari sebuah ritual, bangunan fisiknya serta detail-detail ornamen yang menyertai.
 
Harapan melalui kegitan ini, para guru sebagai rujukan keragaman, kemanusiaan, kebangsaan ini menjadi lebih terbuka terhadap ‘yang lain’ (the others), tumbuhnya sikap toleransi, dan kerukunan antar umat beragama demi mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kenyataannya, para guru pun sepakat merasakan ada sebuah harmoni cinta damai dan nilai-nilai kemanusiaan yang tersemai dalam setiap ajaran agama. Ketakutan, ketidakjelasan pengetahuan seolah sirna sekejab dalam kunjungan singkat nan bermakna ini.
 
Ketika di Masjid Istiqlal, kami ditemani Pak Abu Hurairoh, bagian protokol Masjid Istiqlal. Dengan semangat, ia menjelaskan proses pembangunan masjid, struktur bangunan, aktivitas-aktivitas yang ada di masjid, perjumpaan antara Islam dan budaya nusantara, serta pengelolaan masjid. Pak Abu juga menunjukkan Silaban's dome yang mendunia itu. 
 
Menurut pak Abu, ada tiga bangunan yang dibangun di awal kemerdekaan, walaupun proses penyelesaiannya berbeda-beda, yaitu Monumen Nasional, Gelora Bung Karno dan Masjid Istiqlal. 
 
Salah satu topik yang mencuat saat diskusi adalah tentang radikalisme. Kata pak Abu, semangat kemerdekaan yang mengiringi pendirian Istiqlal menjadikan masjid ini terbuka pada semua yang hadir. Tapi, jangan bawa-bawa kepentingan pribadi ataupun kelompok, apalagi yang berhubungan dengan politik praktis. Pak Abu juga menegaskan bahwa bineka itu memang realitas kita sebagai bangsa Indonesia.
 
Setelah itu, para guru melanjutkan ke Gereja Katedral ditemani oleh Ibu Lily yang menjadi pemandu para guru yang sangat ramah. Beberapa peserta menanyakan simbol-simbol unik mengenai Gereja Katedral, seperti makna air suci, altar, mimbar, lonceng gereja, kehidupan pastor, puasa dalam agama Katolik, apakah rosario mempunyai kesamaan dengan tasbih, dll. Ternyata para guru muslim merasa ada kesamaan yang identik dengan Katolik. Jadi, kenapa kita selama ini merasa sangat berbeda? 
 
Di Vihara Dhammacakka Sunter, peserta SGK di sambut ramah. Vihara ini adalah vihara umat Buddha Theravada. Sumber belajar para guru kali ini adalah seorang Bikkhu muda yang supel dan informatif serta kawan-kawan relawan di vihara. Sang Bhante memperkenalkan tentang ajaran Sang Buddha Gautama yang dihayati oleh umat Buddha. Ternyata tak mudah menjadi umat Buddha yang sungguh menjalankan ajaran Sang Buddha. Dalam diskusi, ada dua topik yang paling mengemuka yaitu tentang kehidupan seorang bikkhu dan satu lagi yaitu mengulas tentang konflik Rohingya. Kesempatan berjumpa dengan Bikkhu ini dimanfaatkan oleh peserta SGK untuk menanyakan banyak kabar hoax yang beredar selama ini terkait isu-isu sensitif.  
 
Dan terakhir, para guru mengunjungi Pura Aditya Jaya, Rawamangun. Pura adalah tempat ibadah umat Hindu. Berada di Pura selalu menenteramkan karena manusia dan alam seolah menyatu dalam puja dan syukur pada Sang Hyang Widi Wasa.
 
Pak Nyoman menyampaikan bahwa salah satu ajaran Hindu adalah Tri Hita Karana dimana umat belajar untuk hidup dalam harmoni dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam semesta. Tidak akan ada yang tersakiti bila semua berusaha hidup dalam harmoni dan memilah tiap urusannya dengan bijak sehingga muncul dalam pikir, laku dan tutur yang tepat.
 
Salah satu topik yang diangkat oleh peserta adalah tentang kasta. Menurut pak Nyoman, benar adanya bahwa Hindu mengenal pembagian kasta dalam artian pembagian peran. Tetapi ia menekankan, saat ini yang paling penting untuk manusia bukanlah pada kasta tetapi pada pemikiran, perkataan dan perbuatan.
 
Pak Nyoman dan kawan-kawan di Pura Aditya Jaya Rawamangun selalu senang menerima umat beragama lain yang datang hendak berdialog dalam semangat keragaman dan kecintaan pada tanah air. Tak lupa para peserta SGK diajak menyanyikan lagu Padamu Negeri. Jadi, apapun agamamu, kita berbakti dan mengabdi bagi Indonesia yang satu.
 

Foto-foto kegiatan:

Bu Lily dari Gereja Katedral menjadi pemandu para guru selama di gereja bernuansa neogotik ini. Beliau ramah dan dengan senang hati menjawab apapun pertanyaan peserta. 

 

Para guru berfoto bersama Bapak Abu Hurairah dari Masjid Istiqlal setelah mendapatkan gambaran historis dan makna simbol-simbol Masjid Istiqlal Jakarta. Masjid ini adalah simbol syukur atas kemerdekaan Indonesia.

Peserta sedang serius tanya jawab dengan salah satu Banthe di Vihara Dhammacaka, Sunter

"Kita tidak dapat memperoleh kebahagiaan dengan mengakibatkan penderitaan pada yang lain," kata Bhante.  

Sena Okto, salah satu guru SGK memberikan hormat kepada Pak Kompyang, ketua Pura Aditya Jaya Rawamangun.

Para mengucapkan salam Pancasila di depan Pura Aditya Jaya Rawamangun

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.