22
Jul 2017
Guru dan Tantangan Keragaman
Post by: Admin
Share:  
 
Bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa majemuk di Dunia. Keragaman agama, bahasa, budaya, dan etnis merupakan warisan leluhur yang tidak ternilai harganya. Bangsa ini tumbuh dan besar dengan beragam perbedaan tersebut. Namun, dalam beberapa kasus, keragaman menjadi potensi timbulnya gesekan antar masyarakat. Oleh sebab itu, perlu upaya serius untuk mempertahankan dan mengelola kedamaian dalam keberagaman tersebut. 
Dalam pertemuan kelima Sekolah Guru Kebinekaan mengambil tema Guru dan Tantangan Keragaman. Dalam pertemuan kali ini, rencananya menghadirkan Dr. Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud. Namun, menjelang pelaksanaan beliau membatalkan. Meskipun Dr Hilmar Farid tidak bisa hadir, namun kegiatan berjalan dengan menyenangkan. 
Dalam sesi pagi peserta memberikan review dan sharing terkait pertemuan-pertemuan sebelumnya. Dalam sesi sharing, beberapa peserta menyatakan telah melakukan praktik terkait dengan pertemuan SGK sebelumnya. Salah satunya, Yudhi Widdyantoro, peserta SGK sekaligus guru komunitas Yoga Gembira. Yuddhi dalam waktu dekat ini telah menjadi fasilitator untk kegiatan komunitas di Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut Yuddhi menuturkan asal-asul manusia Indonesia seperti yang telah di jelaskan Prof. Herawati Sudoyo dalam pertemuan SGK ke-4. Menurut Yudhi, pertemuan SGK tersebut sangat bermanfaat bagi dia dalam memberikan penjelasan terkait asal-asul manusia. 
Setelah sesi review dan sharing, peserta kemudian diajak untuk mengenali lebih dekat apa itu diskriminasi. Fasiliator mengajak peserta SGK untuk keluar ruangan perpustakaan dan menuju lapangan di depan gedung A Kemdikbud. Dalam lapangan tersebut, peserta diminta untuk bermain peran. Setiap peserta diminta untuk memainkan satu peran sebagai kelompok agama atau kepercayaan tertentu yang telah disiapkan oleh fasilitator. 
Beberapa peran yang harus dimainkan adalah sebagai orang muslim minoritas Syiah, Ahmadiyah, Konghucu, Bahai, Penghayat Kepercayaan, muslim sunni, dll. peserta kemudian diminta untuk berbaris dan fasilitator akan membacakan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan ada tidaknya diskriminasi. Ketika mengalami diskriminasi maka peserta akan mundur kebelakang, jadi akan terlihat orang yang mengalami diskriminasi di kumpulan baris belakang. Kemudian mereka akan berlomba adu cepat menuju titik “kesejahteraan” yang berada di ujung lapangan. 
Permianan ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap empati terhadap kelompok lain. Diskriminasi sering terjadi terhadap kelompok-kelompok minoritas yang hak-haknya tidak diberikan seperti masyarakat lainnya. Dengan permainan ini peserta dapat merasakan bagaimana kelompok minoritas tidak mendapatkan hak nya sebagai warga negara dan akan susah untuk mendapatkan kesejahteraan seperti kelompok-kelompok lainnya. 
Pada sesi siang, peserta melakukan identifikasi persoalan-persoalan keragaman yang ada di Indonesia. Fasilitator menyiapkan peta Indonesia dan peserta menuliskan berbagai tindakan atau kasus keragaman yang pernah terjadi. Satu per satu kemudian peserta berlomba untuk menuliskan kasus-kasus yang terjadi. Mulai dari Aceh sampai Papua kasus-kasus keragaman terjadi dengan berbagai motif tindakan. Identifikasi ini penting untuk menyadarkan peserta bahwa keragaman di Indonesia ini tidak luput dari ancaman-ancaman yang perlu selalu diantisipasi. 
Disesi terakhir, peserta kemudian melakukan permainan merah-kuning. Permainan ini bertujuan untuk membongkar prasangka. Sering kali orang berprasangka terhadap orang lain, berasumsi terhadap orang lain, sehingga dapat berujung pada pelabelan, dan bahkan diskriminasi terhadap orang lain. Hal ini dapat berujung buruk terhadap keragaman. 
Permainan merah-kuning menyadarkan peserta mengenai perbedaan fakta (objektivitas) dan opini (subjektivitas). Fakta merupakan kejadian yang sebenarnya, dapat diukur dengan jelas. Sementara opini, asumsi, atau subjektif sudah mengandung opini pribadi, mengandung pendapat pribadi. 
Kesimpulan dari pertemuan hari ini adalah guru mempunyai posisi penting untuk menjaga keragaman yang sangat majemuk di Indonesia. Mengingat keragaman di Indonesia mempunyai potensi gesekan jika tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan keragaman tersebut dapat dilakukan dari hal yang sederhana, misalnya adalah tidak berprasangka terhadap kelompok atau identitas lain. 
Sebanyak 22 peserta yang hadir, kemudian mengakhiri dengan berfoto bersama.
 

Foto-foto kegiatan:

Yudhi, Guru komunitas Yoga Gembira, salah satu peserta memulai pertemuan dengan sharing penerapan materi SGK

Sisillia, fasilitator SGK,  sedang memandu review pertemuan-pertemuan sebelumnya

Peserta sedang memainkan permainan mayoritas-minoritas. Peserta berusaha untuk menggapai "kesejahteraan"

Identifikasi persoalan keragaman di Indonesia dari Sabang sampai Merauke

Febionesta, fasilitator SGK,  mengajak untuk membahas satu per satu persoalan keragaman yang sudah di identifikasi

Henny Supolo, Fasilitator SGK, memberikan tips-tips mengelola keragaman di Kelas

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.