08
Jul 2017
Mengenali Diri untuk Memperkuat Keindonesiaan
Post by: Admin
Dengan 730 etnis dan posisi geografis yang berada di persilangan benua-benua, Indonesia atau yang disebut juga Nusantara adalah kawasan dengan keragaman tinggi. Walaupun demikian, Indonesia juga tak lepas dari kecenderungan penguatan identitas yang memunculkan klaim manusia Indonesia asli atau pribumi serta manusia pendatang atau non-pribumi. 
Pertemuan keempat SGK ini membahas dua topik. Topik pertama adalah paparan ilmiah tentang Asal Usul Manusia Indonesia. Topik ini dipaparkan dan didiskusikan bersama Prof DR Herwati Sudoyo, Peniliti Eijkman Institute. Setelah itu, topik berikutnya adalah Pengelolaan Keragaman untuk Memperkuat Keindonesiaan. Para guru peserta SGK akan diajak untuk mengenali persoalan-persoalan yang melibatkan penguatan identitas di masyarakat ataupun di sekolah dan dampaknya bagi pengelolaan keragaman. Topik ini disampaikan dalam bentuk diskusi dan kerja kelompok. 
Pertemuan diawali dengan review dan sharing peserta.
Sebelum paparan dilaksanakan, fasilitator SGK mengajak peserta dan tamu untuk melihat film "The DNA Journey". Film ini menggambarkan bagaimana sejumlah orang telah melakukan uji DNA untuk mencari tahu latar belakang mereka. Dan betapa terkejutnya mereka dengan hasil tes tersebut. Bahkan sebagian mereka tidak percaya dengan hasil tersebut. Salah satu peserta menyatakan benci terhadap bangsa Jerman,  namun setelah di tes DNA, ternyata dia mengandung keturunan Jerman. 
Menyambung video tersebut, Bu Hera memulai pemaparan dengan sebuah pertanyaan kepada peserta. Siapakah anda? Beberapa peserta menjawab; Jawa, Cirebon, Pandeglang, dll. 
Herawati dalam presentasinya menunjukkan secara riset genetik, termasuk kolaborasi dengan peneliti di dunia, asal-usul manusia di Bumi diketahui berasal dari Afrika, yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, melalui daratan China hingga menuju Australia. 
Menurut Periset Eijkman tersebut, seharusnya tidak ada yang bisa mengklaim sebagai penduduk pribumi Indonesia. Karena secara genetika, kita ini mengalami pembauran. "kelihatan sekali pada dasarnya kita itu latar belakang genetiknya itu campuran," kata Herawati. 
Dalam risetnya, Herawati menemukan bahwa orang di timur Indonesia lebih dekat dengan orang-orang di kawasan Samudera Pasifik, sedangkan di barat Indonesia, lebih dekat ke kawasan Asia Tenggara dan orang Nias dan Mentawai lebih dekat dengan suku asli Taiwan.
"Campuran itu sifatnya gradien. Jadi dia tidak rata semua di seluruh negeri ini. Tapi dari barat ke timur ada penurunan, jadi paling tinggi itu Austroasiatik, itu asalnya dari China daratan, dia turun pada waktu masih ada Paparan Sunda, jadi Sumatera, Jawa, Kalimantan dengan Semenanjung Malaya masih jadi satu. Orang-orang itu turun masuk ke Nusantara, membawa genetiknya, kawin mengawin, dengan sendirinya kita memiliki (genetikanya) kan," imbuhnya.
Paparan yang disampaikan Ibu Hera menjadi pelajaran penting bagi peserta SGK. Mereka kemudian menyadari bahwa tidak ada yang berhak mengklaim sebagai penduduk asli nusantara, karena berdasarkan bukti ilmiah, semua penduduk di Indonesia adalah pendatang. 
Setelah mendengarkan paparan dari Ibu Hera, peserta kemudian berdiskusi mengenai apa tantangan keragaman yang terjadi di sekolah masing-masing. Peserta berdiskusi secara kelompok.
Dalam diskusi kelompok muncul beberapa tantangan keragaman yang terjadi di sekolah di antaranya adalah: 
1. Perbedaan suku, agama, ras, bahasa (masih banyak penggunaan bahasa daerah)
2. Perbedaan kondisi ekonomi, 
3. Perbedaan kondisi fisik,
4. Perbedaan berbasis budaya (tradisional, dan modern)
5. Perbedaan berbasis intelegensia 
Namun selain muncul tantangan keragaman tersebut, muncul pula indikator-indikator positif dalam keragaman, di antaranya: 
1. Munculnya pemahaman guru terkait nilai-nilai universal agama 
2. Munculnya perayaan hari-hari besar keagamaan di sekolah 
3. Munculnya pemahaman bahwa perbedaan itu alamiah dan tidak boleh ada tindakan diskriminatif
4. dll
Dari hasil diskusi ini guru semakin mengerti tantangan keragaman di sekolah dan bagaimana upaya-upaya yang bisa dilakukan. 
Sebanyak 22 peserta dan 27 undangan hadir dalam kegiatan SGK bertema Mengenali Diri, Memperkuat Keindonesiaan ini.
 

Foto Kegiatan:

Liputan Sekolah Guru Kebinekaan oleh Koran Kompas

Ibu Herawati Sudoyo Sedang Memberikan Peaparan Terkait Asal Usul Manusia Indonesia

Kekompakan Peserta SGK setelah melakukan diskusi kelompok

Keseriusan peserta mengikuti diskusi setelah mendapatkan pemaparan dari pemateri

Back
2018© YAYASAN CAHAYA GURU
DESIGN & DEVELOPMENT BY OTRO DESIGN CO.